Bukit Kosakora dan Private Beach

perjalanan ke bukit kosakora dan pantai tak berpenghuni yang kami beri nama pantai 4 serangkai


sunset di bukit kosakora


Assalamu’alaykum hehe alhamdulillah kembali saya ingin menggoyangkan jemari saya diatas keyboard, ditengah malam yang gabut ini saya akan sedikit menceritakan liburan saya kemarin di Bukit Kosakora dan Private Beach.

Merealisasikan

Yak, saya mulai saja dari wacana-wacana yang sudah kami perbincangkan jauh sebelumnya, awalnya hanya sebuah percakapan biasa yang tidak diseriusi hmm bisa kita bilang basa basi yang basi. Sampai kemarin Senin malam kami memulai percakapan disebuah grup yang langsung tanpa fafifu muncullah kata ‘pantai yuk’ dan diiyakan oleh beberapa orang yang memang sudah berwajah kurang piknik dan kurang kebahagiaan, salah satunya saya. 

Lima menit setelahnya langsunglah saya packing, ya meski bukan anak packing karena selalu sedikit sekali barang yang dibawa hehe antara mager dan sok simple hehe. Kesepakatannya kami akan kumpul jam 14.00 dan berangkat setelah shalat Asar, tapi ya karna belum ada persiapan sama sekali dan beberapa dari kami masih menjalankan aktivitas seperti biasa ada yang kuliah ataupun bekerja jadilah molor seperti perkiraan hehe.

Jam 13.40 saya berangkat dari rumah menuju ke suatu tempat karena ada urusan sebentar setelah itu langsung menuju ke supermarket didekat tempat janjian berkumpul untuk membeli beberapa logistik agar tidak kelaparan nantinya, salah satu teman saya pergi ketempat penyewaan tenda diwaktu yang sama juga.

Setelah selesai membeli kebutuhan pangan, menyewa peralatan camp dan beberapa kerempongan yang lain akhrinya kami berempat berangkat pukul 16.00 itupun masih mampir untuk membeli nasi padang yang lumayan antrinya, benar benar rempong? Ah tidak juga. 

Kami berempat berangkat dengan dua motor, yang satu melaju dengan kecepatan angin yang satu dengan kecepatan siput hehehe iya, saya yang siput. Jadilah sampai sana maghrib, oya saya dan salah satu teman saya saat itu sedang berpuasa. Ini bukan mau riya’ ataupun hal yang lain, hanya saja kami ini deadliners, mohon jangan ditiru.

Bukit Kosakora

Setelah sampai tujuan kami shalat maghrib dan isya’ dijamak karena takutnya diatas nanti tidak ada tempat shalat yang kondusif, dan kami kan sedang menjadi musafir hehe. Selesai shalat, kami langsung memutuskan untuk naik keatas karena sudah lapar dan ingin makan dengan suasana yang syahdu, jadilah kami bersabar seikit lagi. Setelah berjalan ditengah kegelapan, akhirnya sampailah kita di pantai Ngrumput. Sama sekali tidak ada rumputnya jangan salah paham. 

Karena lapar saya tidak terlalu peduli dengan suasana pantai Ngrumput itu, saya dan teman-teman saya langsung cus menuju bukit Kosakora tempat yang sudah kita bidik sebagai tempat untuk bermalam. Sebelum naik ternyata ada dua petugas yang menjaga kotak, kotak tempat uang buat yang mau naik harus bayar Rp 2000/orang.

Saatnya Menuju Puncak
Kata bapak penjaganya itu sih kalau mau sampai ke puncak jaraknya sekitar 400meter, yah lumayan yah. Tapikan jalannya nanjak, udah gitu dipenuhi dengan bebatuan lancip yang sadis menantang disetiap jalan. Awalnya merasa nggak sanggup sama sekali kalau harus menuju puncak yang katanya hanya 400meter tapi serasa 2kilometer.

Tapi akhirnya sampai juga dengan nafas yang putus-putus, keringat berjagung-jagung dan perut yang masih bergetar-getar mulai protes meminta haknya ditunaikan. Tapi, capek itu terbayar ketika kalian menengadahkan kepala kalian, yuhuu dilangit bintang beribu-ribu bu bulan hanya satu tu tulis dipapan tulis lis, abaikan.

Saatnya Makan

Dan, akhirnya setelah bersabar merasakan getaran-getaran diperut akibat cacing-cacing yang lagi demo. Tibalah saatnya untuk mamam. Kalian tahu bukan bahwa menunda waktu makan bisa membuat makanan itu berkali lipat kelezatannya, awalnya sedikit menyesal beli nasi padang yang mahal dan antri itu, toh sebenernya kalaupun cuma makan nasi warung yang 5ribuan gitu udah terasa banget nikmatnya, karena pakai lauk lapar tadi, ditambah kunang-kunang yang bersliweran, eh asli saya baru sekali itu lihat kunang-kunang.

Saat makan, tiba-tiba ada simbah-simbah yang menyapa ntah kenapa dalam imajinasi liarku langsung mengatakan kalau itu adalah sosok yang menjelma menjadi manusia untuk memberikan peringatan kepada kita agar hati-hati. Iya ini lebay, beliau hanya memberitahu kalau tempat yang akan kita dirikan tenda itu adalah tempat jalan air hehe kembali kami makanan dengan lahap. 

Suasana Malam Yang Syahdu

Dan, yang selalu dirindukan setiap ngecamp dipantai adalah suasana langit malam yang dipenuhi bintang, itu memang harga yang sangat mahal. Lelah tadi terlah terlupakan(karena sudah kenyang?).

Masalah perut sudah beres, saatnya mendirikan tenda yuhuu. Awalnya merasa disini tidak ada masalah sama sekali, selesainya cepat dan tendanya berdiri dengan kokoh. Yups, tidak ada masalah sampai akhirnya ditengah-tengah kita yang sedang menikmati kesyahduan langit malam muncullah mas-mas yang ntah kenapa bikin tenda didepan tempat nongkrong kita, dan serasa ditampar dengan kesombongan kita yang bilang tadi cepet mendirikan tendanya. 

Dengan tenda yang sama persis(sampai warna dan ukuran tendanya dan bahkan merknya sama), mereka lebih cepat dan lebih kokoh tentunya saat melihat kebelakang dimana tenda kita berdiri itu, berasa rumah reyot yang habis ditiup angin kencang. Yah namanya juga mas-mas, nggak bisalah dibandingkan dengan mbak-mbak. Yakan?

Bintang Jatuh

Meski sudah ada mas-mas tetap kami tidak ingin melewatkan malam indah penuh bintang ini dong, masih dengan aktivitas yang sama tiba-tiba saya melihat bintang jatuh, kalau dulu saya termakan ajaran sesat sinetron atau telenovela yang hits pada jaman saya bocah, bahwa kalau nemu bintang jatuh terus ‘make a wish’ gitu. 

Lain halnya, saya dan teman-teman saya langsung serentak nyeletuk ‘wah setan’ hahaha. Bukan misuh-misuh atau berniat ngomong kasar ya, sebenernya bintang jatuh itu adalah saat dimana setan itu sedang mencuri berita dari langit, ya nguping gitulah makanya bintang-bintang itu ngejar mereka biar pada pergi nggak nguping lagi. Dan dari situlah biasanya info-info yang para dukun dapatkan, atau ramalan-ramalan lain yang sejenis.

Saatnya Masuk Tenda

Satu-satunya hal yang bisa membuat kita akhirnya hengkang dari tempat duduk syahdu itu adalah saat tetangga-tetangga kami sudah mulai lepas baju bertelanjang dada, iya itu mas-mas yang tadi. Geli kan? Makanya kita akhirnya memutuskan untuk tidur, sebenernya sih cuma masuk tenda aja toh didalem kita juga belum niat untuk merem. Ngobrol kesana kemari sampai akhirnya mulut-mulut kami kelelahan dan hening, disitulah akhirnya kami menuju alam mimpi masing-masing.

Keesokan Harinya

Paginya, kami bangun jam 03.00 iyakan tadi saya bilang kalau saya ini deadliners jadi bangun jam segitu karena mau sahur hehe, keluar tenda dan lihat sudah ada satu teman saya, beliau bangun duluan dan disampingnya sudah ada kompor menyala dengan diatasnya panci berisikan air rebusan. Ambil popmie yang kemarin kita beli sambil nyemilin roti sobek buat nungguin si popmie mateng, selesai minum coklat hangat dan air putih. Siap membayar hutang puasa.

Shalat

Setelah itu kami semua shalat subuh berjama’ah ternyata diatas juga ada mushala kecil-kecilan gitu, terfasilitasi sekali bukan. Selesai shalat ternyata sudah ada banyak sekali orang berdatangan, sampai-sampai depan tenda kami sudah dipenuhi orang yang ingin melihat sunrise. Tapi sayang, sunrisenya tertutup semak beluar, masih bisa dinikmati kok tetap terlihat cantik. Disela-sela kami melihat sunrise karena bosan ditutupi oleh rerumputan yang tinggi, kami melihat arah bawah dipantai yang juga sudah ramai sekali. Tapi ada satu pantai yang sama sekali tidak ada orangnya.


indahnya bukit kosakora
Private Beach ada dibalik bukit itu~

Private Beach

Kalau kalian diatas bukit Kosakora pasti akan terlihat pantai yang saya maksud, pantai itu ada diantara pantai Ngrumput (yang ada dibawah bukit Kosakora) dan pantai Drini, jadi bisa dilihat kalau pantai Ngrumput itu banyak sekali tenda-tendanya dan pantai Drini sudah mulai ramai turis berdatangan, tapi pantai itu sama sekali tidak ada orang. 

Heran ya? Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pantai itu. Langsunglah kami segera membereskan tenda kami dan segera turun menuju kesana. Mungkin orang-orang yang ada disana bisa saja heran karena masih pagi sekali untuk memutuskan turun hehe, tapi daripada berlama-lama disana dan tidak tahu harus melakukan apa, ditambah sudah banyak sekali mas-mas yang merokok. Semakin tidak membuat nyaman.

Menemukan Pantai Yang Tak Terjamah

Walaaaa, setelah berjalan-jalan sedikit akhirnya kami sampai di pantai tanpa nama itu, sebelum kaki menginjak pasir pantai akan menemui tempat yang seperti lapangan sepak bola atau bumi perkemahan. Herannya kenapa ya pantai ini belum dibuka untuk umum? Pdhal kalau mau untuk mendirikan tenda ya asik-asik aja sebenernya, semacam pantai Wohkudu begitu.


pantai gunung kidul


Ketakutan Saat Safar

Sebenarnya saya bukanlah orang yang bisa bersenang-senang tanpa ada perasaan-perasaan khawatir akan hal buruk terjadi, saat teman-teman saya yang lain bersenang-senang masuk kedalam air saya malah takut, bisa dibilang ombaknya itu besar-besar dan beberapa kali saya hampir keseret, sudah begitu setiap ada ombak datang pasti membawa pasir banyak sekali jadi badan saya sudah penuh dengan pasir pantai meski baru terkena ombak dua kali saja. 

Karena masih takut, akhirnya saya menepi saja menikmati ombaknya dari kejauhan. Salah satu teman saya ada yang mengajak untuk naik ke karang, jadi di pantai itu ada tiga bagian pantai. 

Pantai yang pertama kita memberi nama hardcore karena brutal sekali ombak dan pasirnya, yang kedua softcore dan dipantai ini saya paling bisa menikmati tanpa worry sama sekali, pantai yang ketiga kami namai supersoft tenang sekali seperti di kolam renang hehe, dan kami menggunakan pantai itu untuk membersihkan pasir-pasir yang menempel ditubuh kita. Saking bersihnya sampai akhirnya saya jadi males mandi ehehehe

Yak, sudah panjang sekali ya saya berceritanya, intinya perjalanan itu sangat berkesan untuk saya dan teman-teman saya, karena baru pertama kali itu ke pantai bisa sebebas itu, glindingan super extream juga bisalah karena Private Beach mah terserah kami.

Oya, sekedar share saja, kemarin kami masing-masing mengeluarkan uang sebanyak Rp 66.500,- berempat yaa, sudah termasuk tenda, tiket masuk, tiket kebersihan, popmie, kamar mandi, roti, coklat, cemilan, kompor dll

Bukit Kosakora : 7/10
Private Beach : 9/10
Baca Juga