Tolong, Aku Sedang Sakit

tolong saya sedang sakit, sedang sakit, ingin dimanja


Hari ini seorang laki-laki paruh baya atau sebut saja Bapak Budi kembali berteriak-teriak merasakan penyakitnya yang kembali kambuh, orang-orang disekitar bukannya berbondong-bondong ingin segera menolong tapi malah mengumpat, merasa jengkel dengan apa yang dilakukan oleh Bapak Budi yang sakit itu. 

Sudah sekitar 2 tahun Bapak Budi ini menderita hipertensi dan juga gagal ginjal, setiap pekan beliau rutin untuk pergi kerumah sakit sekedar cuci darah. Beliau ini sebatang kara, tidak memiliki anak dan sudah lama istrinya meninggal dunia. 

Sebelum sakit pekerjaan beliau adalah kuli bangunan. Dengan kondisi fisik yang sudah tidak memungkinkan itu akhirnya beliau tidak lagi bisa bekerja, hanya istrirahat dirumahnya.
Jadi sebenarnya sudah selama 2 tahun lebih beliau menjadi pengangguran, namun alhamdulillah Allah memang selalu memberikan rezeki yang cukup kepada hamba-hambanya, beliau masih bisa makan meski tidak bekerja sama sekali. Tentunya 2 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk tetangga terdekatnya ini bisa memberikan pemakluman dan selalu merasakan empati kepada bapak Budi ini.

Bapak Budi ini ingin selalu dimanja oleh tetangga terdekatnya, menjadikan sakitnya ini sebagai alasan untuk beliau dikasihi. Tentu pada awalnya semua tetangga merasa kasihan dan bergiliran untuk membantu. Namun bukannya bersyukur dan berusaha untuk menjaga tubuhnya, bapak Budi ini malah tidak tahu diri. Sudah tahu sakit tapi tidak bisa menahan nafsunya untuk memakan makanan yang menjadi pantangannya.

Sebagai tetangga yang baik pasti akan memberikan nasehat, namun entah hormon orang sakit atau bagaimana bapak Budi ini menjadi mudah sekali tersinggung. Dan semakin memanjakan nafsunya untuk memakan makanan yang disukai itu dengan uang pemberian tetangga, tentu saja dari mana lagi beliau mendapatkan uang kan?

Dan akhirnya bapak Budi kembali merasa kesakitan dan berteriak-teriak mengaduh dengan suara yang keras berharap tetangganya akan mendengar dan segera menolongnya. Namun ternyata malang sekali nasip bapak Budi ini, karena beliau tidak mempunyai tetangga yang berhati malaikat, yang mudah memaafkan. Semua tetangga serentak menulikan telinganya, bosan dengan alur sakit yang sebenarnya dibuat sendiri oleh Bapak Budi ini.

Banyak diantara mereka yang malah mengumpat merasa terganggu dengan suara kesakitan itu, seakan empatinya telah kadaluarsa rasa kasihannya berubah menjadi kebencian. Oh Bapak Budi seandainya enkau mendengarkan nasehat-nasehat tetanggamu tentu rasa kait yang sudah bapak rasakan tidak akan semakin parah.

Sakit memang menjadi ujian, makanya Allah menjanjikan untuk menggugurkan dosa-dosa orang sakit jika dia bersabar. Ujian sakit sebenarnya bukan hanya dirasaka oleh penderitanya saja, namun juga orang disekitarnya. Dari kisah Bapak Budi ini, kira-kira siapakah yang salah? Hehe
Baca Juga