Tulisan Curhat Yang Menye-Menye

curhatan yang menye menye ini aku lakukan sebagai healingku, agar pikiranku gembira kembali
nulis untuk curhat
    Akhir-akhir ini aku benar-benar sangat sadar kualitas tulisanku sungguh dibawah rata-rata, sebelumnya aku memang sudah tahu bahwa tulisanku ini tidak layak untuk dinikmati bahkan jika dibaca maka akan mendatangkan kesia-siaan haha. Tapi aku baru sadar bahwa tulisanku sungguh sejelek itu baru akhir-akhir ini.

    Hal itu tentu saja membuat nyaliku menciut, dan seketika kehilangan semangat menulis lagi. Sudah aku katakan sebelumnya bukan? Bahwa aku ini sedang mengikuti seleksi untuk tergabung dalam komunitas menulis One Day One Post. Disana aku sungguh tertampar dengan dipertemukannya aku kepada orang-orang hebat diluar sana, rasanya menjadi butiran debu saja aku tidak pantas, karena debu itu masih memiliki manfaat yang bisa digunakan untuk bersuci.

    Aku memutar otak, apa yang bisa aku tulis agar bisa memberikan manfaat? Kenapa tulisanku ini selalu seperti ini? Aku terus bertanya kepada diriku sendiri, terkadang berdialog dengan sangat konyolnya saling melempar tatapan tajam kepada bayanganku di cermin. Oh ini sangat memalukan bukan?

    Kembali aku mencoba menuliskan tema-tema yang bermunculan di kepalaku, sesungguhnya memunculkan ide itu sangat mudah. Mengingat aku ini halu luar biasa. Tapi aku benar-benar kesusahan untuk memunculkan ide yang bagus, tidak menye-menye, dan mendatangkan manfaat untuk orang lain. Karena sesungguhnya niatku menulis adalah untuk itu bukan? Tidak akan malu membawa amalan kecilku ini ketika nanti menghadap Allah. Dengan catatan aku memang memberikan manfaat lewat tulisanku.

    Beberapa hari aku ini hanya menyetorkan tugas wajib sebagai penggugur kewajiban saja, tidak benar-benar mengerjakannya dengan sepenuh hati. Dan itu juga membuat kualitas tulisanku semakin buruk, ah aku saja sampai tidak sanggup untuk membacanya ulang atau sekedar merevisi karena saking gelinya. Sampai kemudian aku benar-benar merenung dan mencoba mengevaluasi diriku ini. Kemana semangatku? Apakah semudah ini untuk menyerah? Apakah aku ini memang tidak bisa untuk maju sedikit saja? Apa kelebihanku? Dan apakah aku ini akan bertahan dan benar-benar bisa tergabung dalam komunitas ODOP ini?

    Mencoba menjawabnya satu-satu dan kemudian aku kembali menemukan akar masalahnya, siang tadi aku mencoba membuka grup ODOP yang selama ini selalu aku lewatkan karena chat yang sudah menumpuk ratusan. Aku menemukan sebuah chat dari mbak Marita, beliau adalah senior yang sangat kompeten. Beliau mengatakan bahwa “Setiap orang pernah alay pada zamannya. Begitu juga dengan tulisan kita, pernah jelek pada masanya”.

    Akhirnya aku berdamai, seketika akupun ingat dengan nasehat dari Cak Heru pada awal aku tergabung dalam grup ODOP. Kira-kira yang beliau sampaikan adalah untuk selalu menjaga dinamika semangat, awal-awal tidak usah terlalu menulis yang berbobot. Kurang lebih begitu, aku sangat ingat dengan nasehat itu dan memang aku pegang kuat, namun ketika membaca tulisan teman-teman yang lain rasanya aku menjadi tidak percaya diri lagi.

    Dan akhirnya aku tersadar, aku sungguh kejam pada diriku sendiri. Aku tidak menerima kenyataan bahwa aku ini sedang berproses dan dalam tahap tulisan jelek. Aku terlalu menggebu-gebu tidak benar-benar bisa mengontrol semangatku ini. Aku tidak akan bisa maju jika aku selalu seperti ini, aku harus berdamai dengan kemampuanku yang masih sekelas kecebong ini.

    Semoga aku bisa terus menjaga semangatku ini, apalagi saat ini aku dibersamai oleh teman-teman yang luar biasa,  seharusnya aku lebih bisa belajar dari mereka dan bukan malah terpuruk.

    Bismillahirrahmanirrahiim~ semangat terus wahai dirikuu
Baca Juga