Bangku Hangat Cerita Fiksi

bangku hangat menceritakan tentang seorang wanita yang menunggu kekasihnya datang menemuinya













Senyum yang merekah sempurna tercetak jelas di bibir manis Ghalya, membuat semua orang paham betul bahwa mpunya sedang bahagia. Bagaimana tidak? Jika bibir itu tetap tidak melengkung kebawah meski bajunya terkena cipratan air sisa hujan tadi siang. Bukannya marah dengan mobil yang membuat bajunya kotor, Ghalya malah melemparkan senyum kebanggaannya yang sudah sejak tadi bertengger di bibirnya.

“Lyaaa, astaghfirullah bajumuuu” teriak salah satu gadis yang terlihat sepantaran dengan Ghalya menghampirinya. Kaget melihat sahabatnya yang duduk di bangku taman sendirian dengan baju penuh lumpur kering, sampai melupakan kebiasaannya untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.

“Wa’alaykumussalam warahmatullah Resti” Ghalya terkekeh pelan, selalu gemas dengan rasa khawatir sahabatnya yang menggemaskan ini.

Mengerti jika disindir akhirnya Resti mengucapkan salamnya, dan mendudukan pantatnya di bangku biru sebelah Ghalya duduk. Mengeluarkan kotak bekal yang dia bawa dari rumah, sengaja ia siapkan untuk Ghalya yang sudah sangat Resti hafal tabiat menunda makannya.

“Lagian, kenapa bisa baju kamu penuh lumpur begini? Bukannya kamu harus berdandan cantik? Nih, nggak usah bilang makasih. Cukup dihabiskan saja” tangannya menyodorkan kotak makan berwarna biru muda itu kepada Ghalya.

“Aawww Mamaku yang satu ini sangat perhatian, tadi aku saat berjalan kesini tidak melihat jika ada genangan air. Ya sudah ada mobil yang lewat dan seperti yang kamu lihat sekarang hehe” jelas Ghalya dan langsung memusatkan matanya pada kotak bekal yang Resti bawa, didalamnya terdapat sosis gurita yang menggemaskan, nasi yang diatasnya terdapat potongan nori kecil-kecil berberntuk lingkaran dan setengah lingkaran membuat seolah nasi itu tersenyum, dan jangan lupakan ayam teriyaki yang ditaburi sedikit wijen diatasnya.

“Dasar ceroboh. Tapi Lyaa, Kamu yakin Dzaki bakal dateng kali ini?” pertanyaan Resti baru saja membuyarkan lamunan Ghalya yang masih mengagumi sosis gurita tadi, tentu saja senyumnya belum luntur masih setia di bibir Ghalya.

Ghalya hanya mengangguk, melemparkan kembali fokusnya pada kaki-kaki sosis gurita sambil sesekali menyentuhnya menggunakan jari telunjuknya. Tidak ingin terpengaruh tatapan khawatir Resti. Ghalya yakin dengan Dzaki, semalam laki-laki yang ia cintai itu meminta bertemu di taman ini untuk melamarnya. Benaknya kembali menghangat, dan senyum Ghalya semakin lebar. Ghalya kelewat bahagia.

“Aku bisa apa lagi Lya, kamu terlihat sangat bahagia. Aku cuma bisa berdo’a yang terbaik buat kamu ya. Kabari aku kalau sampai satu jam dari sekarang Dzaki belum datang. Oke?” tatapan tajam yang awalnya Resti berikan kini berubah menjadi tatapan yang tidak bisa Ghalya artikan. Sahabatnya itu terlihat lelah, lelah menasehatinya yang diperbudak oleh cinta.

“Maafkan aku ya Resti, aku percaya Dzaki akan datang. Dzaki bilang hanya akan terlambat sebentar, karena ada urusan mendadak. Mungkin sebelum kamu sampai ke rumah sakit, dia sudah disini” masih dengan senyumnya yang memesona Ghalya mencomot sosis gurita tadi.

“Kamu janji Lya. Kalau kali ini Dzaki nggak dateng, kamu akan pergi dari dia kan? Please” Ghalya paham sahabatnya ini sangat mengkhawatirkannya. Resti memang gadis yang baik, dia shalihah. Sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang muslimah. Tidak mau berhubungan dengan laki-laki manapun sebelum nanti jika sudah halal, bahkan membalas chat saja ia enggan. Berbeda sekali dengan Ghalya yang sudah bisa dikatakan tergila-gila dengan satu laki-laki bernama Dzaki itu.

“Iya Res, aku janji. Jika memang Dzaki tidak bisa memegang ucapannya untuk melamarku hari ini, aku akan pergi dan menguninstall semua tentang Dzaki hehe” gigi Ghalya yang rapi terlihat jelas, sengaja memasang senyuman terbaiknya untuk Resti agar sahabatnya tidak khawatir lagi.

“Baiklah Lya, aku harus berangkat sekarang, tapi jika terjadi sesuatu beri tahu aku Lya. Kamu juga penting untukku”

Ghalya mengangguk lagi,tangannya meraih tangan sahabatnya dan menggenggamnya erat.

“Pergilah, pasien-pasienmu itu lebih membutuhkanmu sekarang” perintah Ghalya yang sudah mafhum dengan jadwal padat sahabatnya itu. Resti si dokter muda shalihah yang sanggat membanggakan.

“Semoga Allah selalu menjagamu Lya, aku pamit. Assalamu’alaykum” 

"Wa'alaykumussalam warahmatullah" Balas Ghalya.

Setelah lima langkah berjalan, Resti membalikkan badannya dan kembali menatap sahabatnya itu, tidak rela untuk meninggalkannya. Ghalya hanya tersenyum dan mengibaskan jemarinya kedepan, mengisyaratkan Resti untuk segera pergi tentu saja masih dengan bibirnya yang seperti tidak ada lelah untuk tersenyum.

Setelah Resti sudah menghilang dari pandangannya. Ghalya kembali mengambil sosis guritanya. Saat akan mengambil salah satu sosis yang kakinya sudah hampir patah tiba-tiba handphone Ghalya bergetar, layar handphone itu memunculkan nama seorang laki-laki yang ia bicarakan tadi dengan Resti. Ghalya tersentak, dan kaki si gurita benar-benar patah.

“Iya halo Dzaki, ada apa?” jantung Ghalya berdebar, sesuatu yang berhubungan dengan Dzaki memang berbahaya bagi kesehatan jantung Ghalya. lain kali jika muncul gejala lebih parah Ghalya akan membuat appointment dengan dokter spesialis jantung.

“Lyaa….” suara Dzaki di sebrang sana yang sangat lirih, badan Ghalya meremang, mendengar namanya disebutkan oleh laki-laki ini membuat Ghalya gemas jantungnya berdetak 2x lebih cepat dari sebelumnya.

“Hmm?” Ghalya hanya bergumam, tidak berani mengeluarkan suara. Takut Dzaki akan sadar kegirangannya saat ini, dan dia masih sayang dengan jantungnya.

“Maaf..” Deg. Dada Ghalya sangat nyeri. Sejak tadi jantungnya berdetak tidak wajar sampai Ghalya takut jika ada sesuatu yang salah dengan jantungnya, tapi dengan satu kata dari Dzaki mampu menghentikan jantungnya yang semula menggila. Kali ini Ghalya yakin besok dia akan membuat appointment dengan Dokter jantung. Fix, jantungnya bermasalah.

‘Jangan meminta maaf Dzak please.’ batin Ghalya.

“Lya… bisakah aku memintamu… untuk… menungguku? Sebentar lagi? Dan jangan pergi kemanapun Lya. Ini sudah gelap.” suara Dzaki terdengan seperti orang yang sedang kebingungan, ntah kenapa Ghalya merasa bahwa saat ini Dzaki sedang mengacak-acak rambutnya. Kebiasaannya saat sedang panik. Dan benar saja kata Dzaki, langit sudah gelap.

“apa terjadi sesuatu Dzak?” senyuman yang sejak tadi terlukis di bibir Ghalya mendadak pudar, hanya laki-laki bernama Dzaki yang bisa merubah moodnya seratus delapan puluh derajat. Kini perasaan Ghalya campur aduk, bahkan mungkin ia sudah lupa bahwa beberapa detik yang lalu dia bisa tersenyum tanpa beban.

“tidak Lya… hanya saja.. AAAAAAAA” terdengar suara teriakan yang Ghalya tahu itu bukan suara Dzaki, melainkan suara perempuan yang selalu ada ditengah-tengah hubungan mereka, Desty. Iya Ghalya yakin itu suara Desty.

“maaf Ghalya aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, tapi aku mohon percayalah padaku. Dan tunggu aku… jangan pergi kemanapun… please” suara Dzaki bergetar, dan apa tadi? Apa Ghalya tidak salah dengar? Dzaki memohon kepadanya? Ah, bagaimana bisa Ghalya akan mengabaikan permohonan Dzaki ini. Jika Budak Cinta adalah penyakit kanker maka Ghalya sudah mengidap kanker stadium empat dan divonis meninggal pekan depan.

“baiklah, sam…” belum selesai Ghalya berbicara sambungan telepon itu sudah terputus, ntah apa yang terjadi, semua prasangka buruk mendatangi kepala Ghalya, Ghalya mencoba menggelengkan kepalanya, bermaksud mengusir segala pikiran buruknya tentang Dzaki. Ia percaya pada Dzaki, Dzaki tidak akan meninggalkannya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaannya seharian ini. Dzaki sudah berjanji akan menemuinya di taman ini, tepatnya di bangku yang sedang Ghalya duduki.

Ghalya menghela nafasnya panjang, menjatuhkan bahunya di bangku itu, dadanya terasa sangat sesak. Hanya sebuah telepon dari Dzaki, laki-laki yang membuatnya tersenyum seharian ini dan juga laki-laki yang samapula membuat dadanya sesak. Ia menengadahkan pandangannya ke atas, menatap langit yang indah yang dipenuhi dengan semburat warna jingga, tapi entah kenapa tidak bisa menghilangkan badai dalam hati Ghalya.

“aku akan menunggu Dzak, lagi pula kau memang menyuruhku menunggu kan?” ah Ghalya memang budak cinta, tapi ucapan tadi benar adanya. Ghalya tahu alasan kenapa Dzaki melarangnya pergi kemanapun. Langit sudah gelap dan penglihatan Ghalya kurang bagus di malam hari.

‘Dzaki khawatir kepadaku?’ memikirkan kemungkinan Dzaki mengkhawatirkannya saja sudah membuat hati Ghalya menghangat kembali, rasanya Ghalya sanggup untuk menunggunya bahkan sampai besok.


***


Ghalya serius dengan ucapannya, malam sudah datang dan dia masih setia duduk manis di bangku ini, bergeserpun tidak. Sampai Ghalya merasakan pegal pada punggungnya. Handphonenya sejak tadi bergetar layarnya menyala menampilkan nama Resti, Ghalya tidak ingin mengangkatnya. Sahabatnya ini pasti akan mengomel habis-habisan. Apalagi mengingat Ghalya masih ada disini terhitung enam jam sejak Resti pergi.

Angin malam mulai menusuk kulit halus Ghalya, membuat pertahanannya goyah. Ia mulai mengantuk, tidak ada lagi handphone yang bergetar karena sudah mati kehabisan daya beberapa menit yang lalu. Ghalya berjanji akan meminta maaf kepada Resti besok, karena sudah membuat sahabatnya itu khawatir. Ghalya tidak tahu ini pukul berapa, harapan satu-satunya adalah Dzaki segera datang membawanya pergi dari sini.

Tidak seperti malam-malam biasanya, Ghalya merasa malam ini sangat dingin. Tubuhnya sudah membeku, Perlahan cahaya lampu di samping bangku menggelap. Terang kembali, lalu gelap kembali. Sampai kemudian Ghalya tidak bisa melihat apapun lagi, kepalanya tergeletak di bangku sebelah kanan yang sengaja untuk duduk Dzaki jika nanti dia datang. Matanya terpejam, Ghalya sudah tidak bertenaga, bahkan berharappun ia sudah tidak mampu.

“selamat tinggal Dzak”


***


“tidaaaakkk, jangan pergi Dzakii... ku mohon hiks hiks” jerit seorang gadis yang terlihat ketakutan, matanya sembab akibat air mata yang mengalir sejak tadi.

“des… jangan lagi…” suara seorang lelaki yang dipanggil Dzaki itu lirih sekali. Ia sudah lelah, Ia ingin menjemput gadisnya yang sudah ia buat menunggu.

“kalau kamu pergi, aku akan…”

“DES! JANGAN MACAM-MACAM” teriak Dzaki tiba-tiba saat melihat Desti mengambil pisau di balik bantalnya, sengaja ia siapkan agar bisa mengancam Dzaki, sang lelaki yang begitu ia cintai.

“AKU TIDAK TAKUT MATI, AKU TAKUT KEHILANGAN KAMU DZAAK!!” nafas Desty memburu, sungguh dia siap melakukan apapun demi Dzaki agar tetap bersamanya.

“JANGAN GILA DES! TARUH PISAUNYA SEKARANG” balas Dzaki tak kalah kencang teriakannya, ia meremas rambutnya dan membanting tangannya ke udara. Yang benar saja, gadis ini benar-benar membuatnya sakit jiwa.

“lihat Dzak, aku serius dengan ucapanku… selangkah lagi kamu keluar, pisau ini akan mengkoyak perutku HAHAHAHA. Dan jangan khawatir karena aku tidak akan mati sendirian. Tentu saja, aku tidak akan membiarkan kamu berakhir dengan dia Dzak. Si gadis sialan itu” sosok Desty yang Dzaki lihat sekarang ini sungguh berbeda dengan Desty yang sejak tadi hanya bisa menangis dan memohon. desty yang sekarang dihadapannya sudah gila, dia adalah monster.

“ah atau aku singkirkan si Lya itu saja ya? Bukankah dia masih menunggumu di taman? Jadi cerita kita akan berakhir bahagia Dzak. gadis sialan itu kita biarkan dia hancur sendirian.” Desty terkekeh pelan membayangkan idenya.

“JAGA UCAPANMU DES! TIDAK ADA YANG BOLEH MENYAKITI LYA” habis sudah kesabaran Dzaki, ia lebih memilih mati saja disini bersama gadis iblis ini daripada gadisnya terluka.

“TUTUP MULUTMU DZAK, ja…ngan mencoba menyebut nama… gadis sialan itu” tatapan tajam kembali mendominasi raut wajah Desty, Dzaki heran kenapa bisa Desty yang ia kenal menjadi segila ini.

“kau gila Des…” ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Dzaki, Dzaki sama sekali tidak takut. Ia hanya terus memutar otaknya untuk segera pergi dari sini


***


Seseorang laki-laki berlarian di trotoar, langkahnya lebar-lebar sampai terlihat seperti melayang. Sama sekali tidak peduli dengan sekitarnya, pikirannya hanya dipenuhi gadisnya. Gadisnya yang sudah ia buat menunggu. Bodoh, Dzaki memang bodoh. Jika terjadi apa-apa pada gadisnya, Dzaki tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Nafas Dzaki memburu, kedua tangan Dzaki menekan perut bagian kanannya dan tidak memberikan kesempatan sedikitpun untuk kakinya berhenti. Kakinya sudah membawa dia didepan pagar taman, ia melompati pagar yang setinggi pinggangnya. Membuka pagar itu hanya membuang detiknya yang berharga. Cahaya satu-satunya lampu taman sudah mulai ia rasakan, bangku itu terlihat bagian sampingnya.

Dan yah, Dzaki sudah sampai didepan bangku biru itu. Dia mengatur nafasnya, menariknya serakah dan membuangnya kasar. Dan benar, dia telah kehilangan gadisnya. Ghalya sudah pergi. Bodoh bila Dzaki masih berharap Ghalya akan menunggunya selama ini.

Dzaki membanting tubuhnya di kursi, memejamkan matanya mencoba mengusir lelah setelah berlari. Sampai kemudian matanya tiba-tiba terbuka. Kursi yang ia duduki masih terasa hangat. Ghalya, gadisnya pasti belum lama beranjak dari kursi ini.

“Lyaaa..?” nafasnya tercekat.

“LYAAAA” teriaknya, berharap yang memiliki nama bisa mendengarnya.

“LYAA. Dimana kamu Lyaa… aku sudah datang Lyaa. Maaf aku terlambat sekali” Dzaki bangkit dari duduknya berusaha mencari-cari keberadaan orang lain selain dirinya di taman ini.

“Lya, kumohon Lyaa..” Dzaki sadar ia sudah benar-benar kehilangan gadisnya. Tanpa sadar cairan bening itu mengalir, membuat sungai di kedua pipi Dzaki.

“maaf…” lirih Dzaki nyaris tidak bisa terdengar suaranya bahkan untuk telinga Dzaki sendiri. Ia melepastkan tangan kanan yang sejak tadi memegangi perutnya. Darah mengalir deras dari perut bagian kanannya, ia biarkan darah itu terus mengalir yang perlahan merenggut kesadarannya

“Kau berhak bahagia Lya… selamat tinggal”

-END-

 

Baca Juga