Kamar Adalah Cerminan Hati

merapikan kamar adalah salah satu hal yang dapat membuat kita lebih nyaman untuk ibadah serta mengerjakan tugas.

    

kamar bersih lebih asik


Nah, hari ini aku ingin membersihkan segala kekacauan yang ada di kamarku, kekacauan yang sejak lama terjadi tapi tidak kunjung ditindaklanjuti, mungkin dari kebiasaanku yang memang tidak rapi, contohnya yang paling menyusahkan adalah kebiasaan tidak mengembalikan barang yang habis dipakai, menyusahkan sekali kalau barangnya akan digunakan dan tidak ingat dimana terakhir aku menaruhnya, akhirnya uring-uringan sendiri.

 Sudah cukup, aku lelah hidup dengan penuh drama ini haha. Kuputuskan untuk meninggalkan segala kebiasaan burukku itu, langkah awal yang aku lakukan adalah dengan mulai membersihkan kamar tentunya. Yang biasanya aktivitas membereskan kamar hanya ada acara mengganti sprei lalu menyapu dan mengepel, kali ini harus semuanya dibersihkan.

 Meja belajar adalah yang pertama kali menarik perhatianku, meja belajar ini selalu dipenuhi dengan pernak pernik tidak penting, seperti botol tinta yang sudah mengering. Ah akupun lupa kenapa aku tidak membuangnya dari dulu. Lalu ada kertas-kertas yang berserakan disekitar meja belajar, seperti kartu ujianku saat masih SMK. Nah kan, kok bisa masih ada wujudnya? Dan buku-buku yang tidak mempunyai tempat yg cukup untuk disimpan di lemari.

 Setelah aku pilah-pilah mana yang benar-benar masih aku pakai, dan mana yang memang tidak akan aku lirik untuk 2 bulan kedepan (artinya aku lupa kalau punya barang ini dan emang udah nggak dipakai :D ). akhirnya meja belajarku rapi, hanya ada gelas kecil berisi beberapa bolpoin dan spidol warna-warni. Ku hela nafas dengan kasar, rasanya puas melihat meja belajar yang sepi penduduk itu.

 Berlanjut membersihkan spot-spot lain, kasur. Yak kasur adalah tempat yang mendadak kita bisa menemukan harta qorun yang sempat lenyap. Sebenarnya kasurku ini bisa dikatakan tidak ada kolongnya, tapi tetap ada sela antara kasur dan lantai jadi kadang bisa untuk melenyapkan barang berharga dalam beberapa bulan. Saat membereskan kasur, rasanya bahagia sekali karena paling tidak ada sekitar dua puluh ribu masuk dompet, alhamdulillah.

 Masih dengan senyuman yang merekah sempurna, karena mendapat rezeki yang tidak disangka-sangka arahnya itu, aku melirik rak buku. Astaghfirullah, disinilah aku kembali diuji. Banyak sekali ternyata buku pinjaman yang belum dikembalikan. Betapa dzolimnya diriku ini, gimana kalau yang punya buku selama ini mencari? Atau sedang butuh tapi tidak menemukannya. Parahnya lagi kalau sampai beli baru, benar-benar menyusahkan orang lain.

 Bisa jadi selama ini ujian-ujian yang ini menimpaku, disebabkan karena aku juga menjadi alasan dari kesukaran orang lain? Hiks, sedih membayangkannya. Nah challenges selanjutnya adalah mengembalikan buku-buku ini dalam kurun waktu sebulan, hitung-hitung sekalian silaturahim.

 Ah, benar kata bapak bahwa “Kamar adalah cerminan hati” ini beliau katakan kepadaku saat beliau datang kekamar, maksud hati ingin meminjam lakban. Tapi malah terjadi huru-hara karena kasur sudah jempalitan namun lakbannya nihil.

 Semoga dimulai dari kamar yang bersih ini bisa mendatangkan banyak energi positif, seperti rajin untuk ibadah, tilawah menjadi semakin nyaman, tidur juga berkualitas. Semangat hijrah~ selalu berproses menjadi diri yang lebih baik disetiap harinya. Bismillah.

Baca Juga