Kapan Nikah?

basa basi orang indonesia yang selalu bertanya "kapan nikah?" terkadang membuat sebagian orang menjadi darah tinggi

Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk kembali curhat dilapak ini, malam ini dengan ribuan detik yang kulalui hanya dengan menatap sebuah layar dari benda berbentuk pipih itu atau yang lazimnya disebut smartphone, aku memutuskan untuk mencarikan jemari saya ini olahraga ringan.
 
Malam ini dengan suasana yang mampu membuat telapak kaki saya lebih dingin dibanding anggota badan yang lain, backsound rintik hujan menambah syahdunya suasana ketika saya menjentikkan jemari diatas keyboard ini, sejak tadi pagi memang cuacanya sudah mendung, dan ternyata malam ini Allah izinkan rahmatnya turun membasahi bumi, ucapkan syukur lagi karena Dajjal tidak akan menampakkan diri untuk tiga tahun kedepan.
 
Kali ini, saya akan sedikit curhat tentang kegelisahan yang saya alami akhir-akhir ini.
Banyak sekali yang bertanya kepada saya
 
“Kapan nikah?”
 
Dalam segi usia, memang tidak ada salahnya ketika ada orang yang bertanya mengenai hal itu, awalnya memang tidak masalah juga. Tapi, akhirnya malah jadi beban pikiran.
Entah kenapa jadi ada sebuah keinginan menikah yang sangat besar, sampai-sampai terkadang bayangan-bayangan keluarga yang masih ada dalam mimpi saya tergambarkan begitu jelas.
Astaghfirullah
 
Baiklah, pertanyaan diatas memang wajar-wajar saja ketika ditanyakan kepada saya, karena itu hanya sekedar nasehat untuk menyegerakan dan memastikan apakah sudah ada planning tentang pernikahan.
Lain halnya ketika pertanyaannya menjadi seperti
 
“Kamu pengen nikah nggak sih?”
 
Lah? Siapa sih yang tidak ingin menikah? Pasti semua orang paling tidak punya keinginan untuk memiliki keluarga yang bahagia bukan?
Aneh memang pertanyaannya, saya paham mereka yang bertanya begitu pasti juga punya maksud yang baik, untuk memotivasi saya agar segera menyiapkan jasmani dan rohani menyambut datangnya jodoh dari Allah.
 
Agak risih ya sebenarnya ketika ditanya seperti itu, apalagi kalau dengan nada memaksa menyampaikannya, perkara jodoh itu rezeki dari Allah. Mau kapan datangnya kita tinggal berusaha saja menjemputnya.
 
Menikah itu tidak semudah membeli ciki di warung, meski ada beberapa orang yang Allah mudahkan prosesnya semudah membeli ciki di warung. Sisanya? Ya, sama seperti saya, harus berusaha mengais-ngais recehan untuk bisa membeli ciki di warung.
 
Ada memang orang yang Allah berikan sebuah kecenderungan kepada seseorang dan mereka mampu mempertanggungjawabkan sebuah perasaan itu untuk melangkah menuju jenjang pernikahan. Namun, siapakah yang sesungguhnya bisa menjamin perasaan itu murni dari Allah? Bukan dari setan yang masuk melalui celah-celah pandangan berbisa yang memang kita beri kesempatan saat kita tanpa sadar memandang seseorang dengan nafsu dan hati yang bergetar-getar?
 
Jika memang dari awalnya saja sudah salah jalan, maka bagaimanakah kelanjutan dari pernikahan tersebut? Apakah setan akan ikut andil dalam rumah tangga kita nantinya? Wal iyya dzubillah
 
Pernahkah kalian melihat sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia dan ideal sekali, semua anaknya menjadi hafidz dan hfidzah, sukses di dunia dan sukses di akhirat. Tentu keluarga yang dipenuhi berkah itu bukan berarti tidak ada masalah sama sekali didalamnya, akan tetapi untuk dapat mendidik anak agar bisa mencintai Al-Qur’an dan Ilmu syar’I itu juga harus diawali dari kedua or
 
Bagi saya pribadi, memutuskan untuk menikah itu harus benar-benar dipersiapkan dengan hati yang bersih dan niat hanya karena Allah, bukankah pernikahan itu untuk menyempurnakan separuh dari agama kita? Lalu apakah kita rela ketika separuh dari agama kita ini ternodai keberkahannya akibat hal-hal yang tidak sepantasnya kita lakukan. Karena sesungguhnya, cinta itu bukan jatuh, akan tetapi ditumbuhkan.
 
 
 
Baca Juga