Makan Enak Tapi Tetep Kurus

Cerpen, Makan Enak Tapi Kurus

Amanda menghela nafasnya panjang melihat kotak makan siang yang ada digenggamannya. Sudah satu bulan sejak Amanda memutuskan untuk menjalankan program dietnya, namun dalam satu bulan ini berat badannya masih stuck di angka 64kg. Pernah sekali turun hampir 5kg itu dengan bantuan pil-pil diet dipasaran. Namun setelahnya dia dirawat di rumah sakit karena dehidrasi parah, setelah kejadian itu orangtua dan para sahabatnya melarang keras Amanda untuk mengonsumsi pil, vitamin atau apapun yang menjanjikan langsing.

Dan beginilah keadaannya sekarang, ia tidak lagi mengonsumsi pil-pil yang tidak jelas itu. Sekarang Amanda berusaha menggunakan cara yang sehat, namun tidak dipungkiri jika Amanda sudah hampir lelah untuk terus berjuang, ia bahkan rela tidak lagi makan martabak manis Pak Slamet yang biasanya setiap malam selalu ia beli untuk camilan sepulang kerja.

“Yaudah Manda, orang diet itu juga tetep ada cheating daynya, nggak papalah sehari aja beli martabak Pak Slamet yang katanya penghilang stresmu itu.” celetuk Ranti seakan paham kerinduan Amanda pada martabak manis Pak Slamet, Ranti hafal betul bagaimana Amanda dan drama martabaknya, sahabatnya ini bisa uring-uringan jika Pak Slamet terpaksa libur tidak berjualan tanpa kabar.

“Ya Allah Ranti, nggak bisa gituu. Kamu tahu kan aku ini nafas aja naik sekilo?” protes Amanda yang mengepalkan tangannya erat, menahan emosinya. Bagaimana bisa Amanda akan merusak lagi tubuhnya dengan makanan bertepung penuh gula itu, meski benar kata Ranti jika Amanda sudah hampir gila menahannya.

“Ih Manda, kalau emang gara-gara nafas aja mending kamu sering-sering kentut deh. Biar turun berkilo-kilo” balas Ranti lalu setelahnya melahap batagor pesanannya yang membuat emosi Amanda semakin naik.

Assalamu’alaykum, gengs aku gabung yaa hehe.” tiba-tiba terdengar suara yang sangat mereka rindukan, seketika dapat menyelamatkan Ranti dari terkaman Amanda.

Wa'alaykumussalam warahmatullah. Eh tumbenan Zara kamu nongol, kirain dah lupa sama kita.” sahut Amanda sinis menatap sahabatnya yang di panggil Zara, mereka memang biasanya bertiga namun sebulan ini Zara sudah jarang berkumpul makan siang bersama, entah ada saja alasannya, dan kali ini dia tiba-tiba datang dengan sekotak bekal.

“hehe maaf, aku kadang masih belum menyelesaikan pekerjaanku. Tanggung kalau ditinggal makan.” kata Zara sambil menarik kursi di sebelah Ranti dan bersiap membuka bekalnya.

“Zara jangan tinggalin aku lagi please… Aku nggak mau berdua aja sama kucing garong ini, dia tuh karena diet jadi galak terus, karena kurang lemak mungkin ya? Hehe” seru Ranti dengan bibir yang dimanyun-manyunkan manja, Amanda jijik melihatnya.

“eh btw, Zara kamu kurusan deh..”seru Ranti yang membuat Amanda mengalihkan fokusnya kepada Zara, dan benar saja pipinya yang chubby tidak lagi menyembul. Merasa mendapat tatapan tajam dari kedua sahabatnya Zara menjadi salah tingkah.

“kamu jahat banget sama aku Ra. Jangan-jangan selama ini kamu itu nggak makan siang karena lagi diet diem-diem. Kamu minum obat diet apa? Sini bagi ke aku, lagian gaji kita sama harusnya aku juga bisa beli” Amanda dengan tidak sabaran sangat penasaran rahasia diet Zara ini, yang benar saja yang sudah gembar-gembor mau diet siapa yang kurusan duluan siapa. Harga diri Amanda tersentil.

“eh kamu salah paham Man, aku sama sekali nggak diet kok. Bahkan tiap hari aku makan soto, rendang, ayam geprek, seblak.” Zara buru-buru menjelaskan takut benar sahabatnya berpikir yang tidak-tidak.

“kamu serius Ra? Terus kenapa badan kamu malah jadi kurusan? Bukannya mekar sempurna kayak Amanda?” garpu melayang ke arah Ranti saat dia selesai berbicara, Ranti memang suka menyulut api.

“Eh, astaghfirullah Mandaaa. Gila kamu ya.” pekik Ranti ngeri melihat garpu yang terjatuh di lantai, andai saja Ranti tidak bergeser sedikit garpu itu akan mengenai matanya.

“KAMU YANG GILA! MANA BISA AKU MEKAR, EMANG KEMBANG DESA” Amanda berdiri, menendang kursinya agar masuk ke sela-sela meja, malas menggunakan tangannya. Dia sudah sangat emosi, dan berdekatan dengan Ranti akan membuat Amanda semakin murka.


***


Tok…tok…tok…
“iya sebentar” suara Zara sang pemilik rumah yang terheran-heran, siapa yang bertamu selarut ini. Hatinya berdenyut, memasang mode waspadanya, pikirannya melayang ke kejadian satu bulan yang lalu, dimana dia dan keluarganya kedatangan tamu istimewa. Perlahan Zara membukakan pintunya dan sembari melirik siapa di balik suara ketukan itu.

“Heeyyy lama sekali sih, dan kenapa kau mengintip seperti itu Ra?” kedua mata Zara melotot, namun setelahnya ia tersenyum hangat dan mempersilakan Amanda masuk.

“hehe maaf aku kira maling, lagian nggak pakai salam kamu Man” jawab Zara berserta cengirannya yang menguapkan emosi Amanda, Amanda memang sering emosian sekarang. Apa benar ya yang dikatakan Ranti? Semenjak diet, dia jadi sering uring-uringan karena kurang asupan lemak. Omong kosong, mana mungkin kurang lemak membuat seseorang jadi emosian.

“eh duduk Man, maaf ya rumahku berantakan maklum kalau adek-adek belum tidur rumah susah sekali rapi” Zara kembali nyengir ala ala iklan pasta gigi, kalau saja dia mau sedikit memoleskan makeup ke wajahnya mungkin dia sudah menjadi brand ambassador pasta gigi terkenal itu.

“ah santai aja, adek-adek belum tidur kan Ra? Aku membawakan mereka martabak Pak Slamet” mata Amanda menscan keseluruh ruangan mencoba mencari adik-adik Zara namun nihil, sedangkan tangannya yang membawa bungkusan martabak itu sudah ia julurkan kepada Zara.

“ah mereka sedang menonton film, hari ini kakakku pulang” jelas Zara, Amanda sudah tahu siapa lagi yang tadi siang mengirimkan bekal makan siang Zara kalau bukan kakaknya.

“ah ya, maaf aku tidak punya makanan untukmu Man. Tapi kita bisa memakan ini bersama hehe” Zara kembali memperlihatkan cengiranya kepada Amanda sekaligus memastikan bahwa sahabatnya ini benar-benar rela memberikan martabak kesukaannya.

“tidak perlu repot-repot Ra, aku tadinya memang tergoda dengan ucapan Ranti untuk melakukan cheating day, tapi aku sadar dan membawanya kesini untuk membuatmu tidak kurus lagi. Lagian jika aku bawa kemari adik-adikmu akan menyukainya, daripada aku memakannya dan menyesalinya seumurhidupku.” tukas Amanda

“wah terimakasih Man, kebetulan adik-adiku sudah lama meminta martabak Pak Slamet tapi aku selalu tidak sempat membelikannya akhir-akhir ini” ucap Zara yang kalau Amanda tidak salah lihat kedua mata Zara sedang berkaca-kaca, Amanda heran hanya sebungkus martabak ini sudah membuat Zara hampir menangis, apa dia benar-benar sedih jika aku buat gendut kembali?

“kau kenapa menangis Ra? Kamu takut gendut lagi? Sejujurnya aku juga ingin membuatmu gendut lagi. Aku tidak suka melihatmu sekurus ini, dan itu juga membuat harga diriku terluka” gerutu Amanda sembari membuka bungkusan martabak yang tadi ia bawa, Zara sama sekali belum menyentuhnya.

“aku sudah makan Man, biarlah ini untuk adik-adikku saja” Zara tersenyum mengangguk-angguk.

“kau makan apa tadi?” tanya Amanda malas, kenapa susah sekali membuat Zara ini oleng.

“aku makan dengan… Iga penyet” jawab Zara disusul dengan senyum penuh kesombongannya yang Amanda akan membencinya sekarang.

“iga penyet itu berapa ya kalorinya?” tanya Amanda jelas tidak bertanya kepada Zara karena setelah itu dia membuka smartphonenya dan mencoba mencari informasi mengenai kandungan kalori pada iga penyet.

“ah ternyata 254 kalori, setidaknya aku lebih kenyang makan iga penyet dengan nasi daripada hanya sepotong martabak, dab aku masih mempunyai 1000kalori hari ini, aku tidak akan membengkak besok pagi jika sekarang aku makan iga penyetmu Ra” Amanda bangkit dari tempat duduknya, dia memang sudah kerumah Zara berulang kali jadi dia sangat hafal isi rumah Zara dan dia juga selalu mendapatkan akses untuk melakukan apapun, karena Zara selalu mengucapkan ‘anggaplah rumah sendiri’ kalimat basa basinya.

Tapi berbeda kali ini, Zara menarik tangannya dan kepalanya menggeleng.

“iga penyetku sudah habis…” Zara benar-benar memasang wajah takutnya, aneh apa yang sudah Amanda lakukan? Kenapa Zara menjadi ketakutan seperti ini? Apa Zara takut jika obat dietnya itu terbongkar dan bisa membuat Amanda menjadi kurus juga?

Pikiran buruk tentang Zara yang mehannya ini membuat Amanda gemas, dia jengkel juga kepada dirinya sendiri yang mulai menilai sahabatnya ini dengan jahat, Amanda rasa kali ini Ranti benar. Amanda kekurangan lemak dan menjadi mudah sekali tersulut emosinya. Ah persetan dengan kekurangan lemak, Amanda akan membongkar rahasia Zara sekarang juga.

Amanda langsung berlari menuju dapur, dan mencoba meneliti rungan itu dengan tatapan tajamnya berharap akan menemukan sesuatu yang membuat sahabatnya Zara ini gelagapan. Matanya tertuju pada tempat sampah yang ada dibawah wastafel, ia mendekatinya dan melihat hanya ada satu bungkus plastik disana ‘ini dia’ batin Amanda.

Namun apa yang dilihat Amanda sungguh membuatnya mematung, sukses dia telah mempermalukan Zara sahabatnya sendiri. Zara langsung merebut bungkus plastik itu dan menunduk.

“maaf…” katanya lirih, ucapan maaf Zara langsung menggores hati Amanda. Rasanya nyeri, dia sudah benar-benar keterlaluan.

“aku tidak berbohong Man, aku memang memakan soto, ayam geprek, seblak, dan iga bakar…” Zara mencoba menahan suaranya yang sudah parau karena menahan tangis saat ini. 

Sebelum melanjutkan ucapannya Zara menatap Amanda dengan senyuman yang tadi sudah terlanjur Amanda benci.

“tapi semua itu dalam bentuk mie…”

-END-
 

Baca Juga