5 Alasan Aku Memilih Bertahan Bersama ODOP

One Day One Post, Komunitas Menulis Gratisan, Komunitas Wajib untuk Penulis
 

    Tepat sudah satu bulan ini aku menjadi peserta seleksi One Day One Post atau sebut saja ODOP Batch 8. Awal menulis adalah tanggal 7 September 2020 dan sekarang adalah 7 Oktober 2020. Meski perjalananku masih panjang, mungkin jika diizinkan untuk lolos dan resmi menjadi anggota ODOP jalan panjang membentang masih ada didepan mata, intinya proses untuk menulis ini tidak akan menemui ujungnya karena hanya belajar dan latihanlah yang akan terus kita lakukan.
 
    Selama satu bulan ini aku sudah mendapatkan banyak hal, sedikit cerita sebelum aku mengikuti ODOP ini aku dikenal sebagai manusia Penganut Aliran Tidur Setelah Isya. Karena aku hanya mampu bertahan menahan nikmatnya rasa kantuk dan godaan kasur empuk paling lama adalah jam 20.00 WIB. Bagi sebagian orang hal ini sungguh menyebalkan karena dijam-jam itu orang-orang masih dalam jam produktifnya, jadi aku sering tidak ada disaat mereka membutuhkanku.
 
    Aku sampai berulang kali mengevaluasi diri, dosa apa yang aku lakukan sampai-sampai aku terhalangi untuk menunaikan amanah dan membantu orang lain? Kenapa selalu tertidur di jam-jam yang rawan, dan terbangun saat sudah semua orang terlelap termasuk yang sejak tadi membutuhkan bantuanku. Aku mencoba banyak hal dan akhirnya hanya ODOPlah yang bisa merubah jadwal tidurku.
 
    Alhamdulillah sampai detik ini aku masih merasa enjoy dengan kebiasaanku menulis dijam-jam yang biasanya aku sudah terlelap, meski untuk mengusahakan mata tetap terjaga itu sangatlah tidak mudah. Pernah saat itu aku baru menulis setengah halaman, tiba-tiba saja mata tanpa sadar terpejam dan saat terbangun sudah bertambah banyak halamannya meski hanya didominasi huruf B saja. Hasil perselingkungan kepala dengan keyboard.
 
    Nah mau tau apa yang bisa membuatku bertahan rela menahan kantuk? Ini 5 alasanku ya,
 
1. ODOP Komunitas Menulis Gratis
Sebelum kenal ODOP aku mencari-cari sendiri kelas atau komunitas menulis apa yang bisa aku masuki untuk mengembangkan gaya menulisku yang masih sekelas kecebong ini, saat itu kebanyakan adalah kelas menulis dan berbayar. Aku rela-rela saja membayar tapi terkadang masih suka tidak disiplin mengerjakan tugas, akhirnya sayang uangnya. Sempat vakum lama dari dunia kepenulisan karena ujung-ujungnya juga pasti akan seperti itu. Sampai suatu ketika aku menemukan postingan OPREC ODOP #8 di Instagram dan disinilah aku, meski gratis justru disini bisa membuat diriku berkomit untuk menulis dan posting setiap hari. Ya harus tahu dirilah kalau bahasaku, udah dikasih gartisan masak masih mau disia-siakan? Ah BIG NO.
 
2. ODOP Komunitas Menulis Yang Menantang
Alasan kedua bertahan adalah ODOP selalu memberikan tantangan disetiap pekannya, dari 7 hari ada satu hari dimana kita harus menyetorkan tugas wajib kita, tugas itu unik-unik dan semakin lama semakin menantang. Yang awalnya membuat postingan tentang strategi sampai kemudian tantangan membuat autobiografi, judul menarik, juga membuat paragraf awal yang membuat pembaca betah. Tantangan yang menarik dan bisa memicu diriku pergi dari zona nyaman.
 
3. ODOP Komunitas Menulis Yang Nggak Pelit Ilmu
Tenang dulu meski setiap pekannya selalu ada challenge, ODOP itu sangat bertanggungjawab dengan menyediakan juga materi untuk memastikan kita mengantongi ilmu sebelum eksekusi tugas wajibnya. Ada materi 2x selama sepekan dan pematerinya juga bukan yang abal-abal lho, disana kita bisa serap sebanyak-banyaknya ilmu dan bertanya sampai sejelas-jelasnya, tapi yang ini sih harus cepet-cepetan ya soalnya temen-temen ODOP yang lain suka brutal kalau tanya hihihi
 
4. ODOP Komunitas Menulis Yang Seniat Itu
Sejak awal aku sudah bilang bukan bahwa disini kita tidak dipungut biaya apapun, bahkan ketika mendaftarkan diri sama sekali tidak diungkit dalam form minimal untuk infaq saja. Aku heran dapat uangnya darimana ya? Sudah gratisan, ada materi 2x selama sepekan yang jika diluar sana aku yakin pasti berbayar, gabung ODOP untungnya berlipat-lipat kan?
 
5 ODOP Komunitas Menulis Yang Sebaik Itu
Entah siapa yang membuat ODOP pada awalnya, tapi dengan adanya ODOP ini kurasa banyak sekali orang yang terbantu, terbantu untuk menemukan karakter menulisnya, terbantu untuk membangun habbit menulisnya, terbantu tersalurkannya energi menulisnya, dan banyak hal lain yang tidak bisa aku sebutkan karena khawatir akan menjadi novel dengan jumlah halaman 400an.
 
    Terimakasih ODOP rasanya aku malu jika harus menyerah untuk memperjuangkanmu, aku berharap banyak orang yang akan semakin mengenal mu dan berproses bersama disini. Itu tadi hanya sekelebat manfaat yang aku dapatkan dari setengah perjalananku menjadi peserta seleksi, belum tahu jika sudah menjadi peserta resminya akan seperti apa lagi aku dibuat jatuh cinta, jika kamu hobby menulis maka ODOP adalah tempat yang tepat untukmu.

Baca Juga