Ada Yang Terpecahbelah Tapi Bukan Barang

Muslim United, kajian persatuan, persatuan ummat muslim, ummat muslim terpecah belah
    Hari ini aku mencoba kembali membuka folder yang berisikan tulisan-tulisanku, entah itu diary atau sekedar ingin menumpahkan perasaan, dan ketika membuka salah satu tulisanku secara acak, aku menemukan tulisanku di tahun 2018 yang membahas tentang Muslim United. Seketika kerinduanku untuk kembali datang di majelis ilmu semakin menggebu-gebu. Bulan September harusnya di Jogja selalu ada kajian persatuan, yang mendatangkan guru besar ummat muslim dari latar belakang yang berbeda-beda, kalau yang sudah-sudah biasanya akan ada Ust. Oemar Mita, Ust. Abdul Somad, Ust. Adi Hidayat, Ust. Salim A Fillah, dll
 
    Aku jadi ingat kenangan Muslim United saat pertama kali diadakan. Aku memang warga Jogja dan saat itu MU diadakan di Masjid Agung Kauman yang mana masjid itu dekat sekali dengan rumahku bisa dijangkau hanya dengan berjalan kaki sekitar 15menit. Tapi yang kemudian menjadi bahan renungan untukku adalah, rumah sedekat itu tapi hanya mengikuti acara saat malam terakhirnya saja, sedih, dan sangat menyesal kenapa tidak aku sempatkan sejak hari pertama. Muslim United diadakan sejak tanggal 16 Oktober 2018 sampai 18 Oktober waktu itu.
 
    Selama 3 hari yang jika kalian tanya bagaimana suasananya sudah dipastikan sangat ramai, meski aku hanya datang disaat malam terakhir namun tetap update dari teman-teman yang lain bahwa suasana disana selalu ramai, dijam apapun. Padahal serangkaian acara MU itu tidak diadakan di weekend yang mana itu adalah jam kerja, jam sekolah dan jam kuliah. Namun suasananya tetap ramai maa syaa Allah.
 
    Aku tidak bisa menceritakannya secara detail karena memang aku hanya datang di hari terakhirnya saja, tapi ada beberapa hal yang membuat selalu menghangat batinku ketika mengingatnya,
 
    Yang pertama adalah, saat pertama kali mendapatkan info mengenai Muslim United aku masih ingat kali pertama membaca taglinenya Lelah Berpisah, Mari Berjama’ah. Hal ini sudah sangat dinanti-nantikan semua kaum muslim di Dunia, semuanya menginginkan persatuan namun terkadang gengsi atau apalah yang membuat kaum muslimin ini masih saja terpecah belah. Ada yang terpecah belah tapi bukan barang, kwokwok lupakan.
 
    Jauh sebelum acara ini terpublish, beberapa ustadz favorite yang selalu aku singgahi akun sosial medianya seperti Ust Abdul Shomat, Ust Oemar Mita, Ust Adi Hidayat, Ust Felix Siaw dan masih banyak lagi. Nah, jika dilihat guru guru kita ini tentu memiliki beberapa pendapat yang berbeda, namun banyak juga yang sama. Yang selama ini selalu terfokuskan oleh masyarakat itu adalah perbedaannya lalu kemudian melupakan bahwa sesungguhnya para asatidz kita itu juga memiliki banyak persamaan, mereka sama-sama menyampaikan kebenaran, sama-sama menyampaikan kebaikan, sama-sama menyampaikan ilmu syar’I, dan yang paling penting sama-sama Muslim. Hehehehe
 
    Jadi intinya, kenapa sih kita selalu terfokuskan dengan hal-hal yang berpotensi mengakibatkan perpecahan, sedangkan persamaan yang jauh lebih banyak sering kita singkirkan, perbedaan itu sudah ada sejak Rasulullah wafat, jadi itu sudah sangat wajar seharusnya.
Dan hadirnya Muslim United ini mampu mengobati rasa rindu persatuan ummat Islam.
Fokus menghapus jarak yang selama ini sudah terbangun dengan kokoh, dan mengesampingkan ego masing-masing bahwa kita ini butuh bersatu, dari jama’ah manapun selagi kita masih mengaku hamba Allah kemudian ummat Nabi Muhammad.
 
    Ah kan, aku menggebu-gebu lagi, padahal hanya membaca apa yang dulu pernah aku tuliskan tidak benar-benar sedang menghadirinya. Rasa rindu ingin kembali berkumpul dengan ribuan manusia hadir tanpa membawa bendera dari jama’ah manakah mereka.
 
    Duluuu sekali, ada yang pernah memberikan nasehat kepadaku terkait bagaimana aku harus memilih mengikuti jama’ah A atau Jama’ah B, aku memilih berdiskusi dengan beliau yang dari jama’ah A kemudian mencurahkan isi hati saya kepada beliau terkait kegundahan hati saya di jama’ah B. maa syaa Allah luar biasa sekali tanggapan beliau meski disitu posisinya saya memihak jama’ah A tapi beliau selalu menegaskan dalam nasehat-nasehatnya untuk tidak pernah merasa lebih baik dari jama’ah manapun, mungkin saja jama’ah A ini mengamalkan 50 sunnah, dan jama’ah B juga mengamalkan 50 sunnah lainnya yang berbeda. Intinya mereka semua mengamalkan sunnah dari Rasulullah, dan kemudian tersadarlah aku si manusia hina ini untuk tidak lagi memandang suatu hal dengan sebelah mata.
 
    Itulah yang selalu aku rindukan dari MU, tahun 2019 tentu ada cerita yang berbeda meskipun tema yang diangkat masih sama. Di tahun itu rasanya penuh dengan ujian, hihi. Semoga Allah izinkan kita untuk berkumpul bersama lagi, dari seseorang yang merindukan persatuan.
Baca Juga