Pengertian Ridho dan Ikhlas dalam Kehidupan Sehari-hari

pengertian serta contoh ridho dan ikhlas dalam kehidupan sehari-hari terhadap kualitas keimanan seorang muslim.

cerminan keimanan

Ridho dan ikhlas adalah hal fundamental yang harus ada dalam diri seseorang yang mengaku beriman. Sebagai manusia yang mengaku beriman kita harus aware dengan prinsip ridho dan ikhlas ini. Terkadang kita sendiri sering tidak paham perbedaan antara keduanya, dan tidak menyadari sudah adalah ikhlas dan ridho dalam keimanan kita.

Seperti kata Gurunda Ustadz Syatori Abdurauf, saat kita sedang bercermin hal yang harus ada dalam penglihatan kita adalah mata, hidung, mulut dan anggota badan kita lainnya yang ada di wajah. Akan menjadi menyeramkan saat kita bercermin organ tubuh yang ada di wajah tidak nampak salah satunya, seperti hidung mungkin. Sudah pasti kita akan kaget dan panik mencari kemana perginya hidung itu.

Begitu pula saat kita bercermin menggunakan keimanan, hidung yang hilang tadi kita ibaratkan saja salah satu dari ridho atau ikhlas. Apakah kita akan sepanik seperti kehilangan hidung? 

Pengertian Ridha dan Ikhlas

Sebelum kita menengok keberadaan ridho dan ikhlas dalam iman kita, mari kita mengingat kembali perbedaan antara kedua hal itu yang sering orang salah mengartikannya, dan meminimalisir kesalahpahaman diantara kita eciyee.
Ridho adalah sikap hati dari segala sesuatu yang berkaitan dengan qadha dan qadar

Ridho artinya dalam Islam ini memiliki maksud sikap atau perilaku kita dalam menyikapi takdir yang Allah tetapkan, mau itu qadha atau qadar keduanya sama saja. Jadi apakah sudah terbayang bagaimana kita mngaplikasikan ridho ini dalam kehidupan sehari-hari? 

Ikhlas adalah sikap hati dari segala sesuatu yang berkaitan dengan penyukutuan selain Allah.
Berbeda dengan ridho, ikhlas ini lebih kepada perilaku kita yang dapat menjerumuskan kita dengan penyekutuan. Kok serem ya? Iya memang seram, karena ikhlas ini jika tidak kita latih akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Seperti halnya saat kita beribadah tapi masih mengharapkan wajah manusia, ingin dipuji, ingin dipandang baik, padahal ibadah kita ini akan diterima hanya jika kita melakukannya karena Allah saja.

Nah gimana sekarang sudah paham ya Fren, bagaimana perbedaan ridho dan ikhlas itu? Sekarang saatnya kita melihat kualitas ridha dan ikhlas kita yang akan berpengaruh pula pada kesempurnaan iman, dan ini adalah bentuk penyelewengan sikap hati

1. Ridho Tapi Mengeluh

Membuat hati kita selalu memilih sikap untuk sabar dalam segala kondisi adalah hal yang berat-berat susah hehe, kadang ada saja hal yang membuat jadi oleng, lalu tiba-tiba saja mulut ini bersungut-sungut menyalahkan takdir ‘kok jadinya malah begini sih? Waaaah’ hati-hati bahkan hal sekecil itu sudah menjadi potensi untuk merusak keridhoan kita lho Fren gawat yaa. Jika sudah terlanjur maka segera hapus dengan istighfar sebanyak-banyaknya.

Contohnya saja saat sudah belajar semalaman suntuk tapi saat melihat nilainya tidak sesuai dengan yang kita harapkan,

“kok cuma segini? Padahal aku sudah begadang semalaman untuk menghafal"
Nah kalimat diatas adalah contoh seseorang yang tidak bisa menerima takdir yang sudah Allah tetapkan, atau

“alhamdulillah nilainya cukup, meski sebenernya nggak sebanding sama yang aku korbankan semalam”
Yang ini baru contoh kalimat ridho… tapi mengeluh hehehe

2. Ikhlas Tapi Kecewa

Sama dengan ridho, ikhlas ini juga sering sekali menjadi ilmu yang susah diterapkan. Bisa jadi saat kita sudah meniatkan ikhlas karena Allah dalam mengawali amal kita, setan datang dari arah manapun untuk menggoda kita agar niat lurus kita berbelok barang sedikit. Beberapa orang mungkin akan beranggapan dirinya telah berhasil untuk ikhlas, nyatanya ikhlas adalah amalan yang ketika kita masih merasakan ikhas didalamnya maka sesungguhnya itu bukan ikhlas, nah kan pusing? Coba saja lihat surat Al Ikhlas dalam isinya sama sekali tidak menyebutkan ikhlas.

Contohnya misal teman kita sedang kehabisan bensin dan kita meminjamkan motor kita untuk membantunya, dengan perasaan ikhlas karena Allah. Dipakailah motor itu sampai kemudian motornya dikembalikan dalam keadaan bensinya habis. Lalu kita 'astaghfirullah ini kok dihabisin sih, terus aku pulangnya gimana dong? Tau gitu tadi…' ikhlas kok bantuinnya beneran, iya tau kok kalau itu Ikhlas tapi... kecewa.

Hayo hayo siapa yang tetep bisa kasih senyuman ke temen tadi saat dia kembaliin motor kita dalam keadaan bensinnya kosong? Kalau masih selamat artinya hati kita sudah bisa terlatih untuk tidak kecewa saat sudah mengikhlaskan karena Allah.

Sudahkah Ridho dan Ikhlas Itu Hadir?

Mari sama-sama mengevaluasi diri, kira-kira jika kejadian yang menguji keridhoan dan keikhlasan kita datang, sikap apakah yang akan hati kita pilih? Memilih untuk mengeluh dan kecewa atau sabar dan berserah diri kepada Allah? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Jika tidak sempurna ridha dan ikhlas kita maka cacatlah keimanan kita.

Kesimpulan

Semoga bisa menjadi pengingat untuk kita semua dalam menghadapi segala ujian yang datang, agar selalu termotivasi meningkatkan kualitas keimanan dengan memegang erat prinsip ridho dan ikhlas, ayo kita semua harus rajin-rajin melatih kepekaan hati. Dengan begitu hati kita akan selalu terkondisikan dengan baik, dan kualitas keimanan kita juga tidak cacat.


Baca Juga