Sudah Adakah Ridho dan Ikhlas Dalam Cerminan Keimananmu?

ridho dan ikhlas, perbedaan ridho dan ikhlas, ridha tapi mengeluh, ikhlas tapi kecewa

cerminan keimanan

Ridho dan ikhlas adalah hal fundamental yang harus ada dalam diri seseorang yang mengaku beriman. Sudah seharusnya sebagai manusia yang mengaku beriman kita harus aware dengan prinsip ridho dan ikhlas ini.

Seperti kata Gurunda Ustadz Syatori Abdurauf, saat kita sedang bercermin hal yang harus ada dalam penglihatan kita adalah mata, hidung, mulut dan anggota badan kita lainnya yang ada di wajah.

Akan menjadi horror saat kita bercermin organ tubuh yang ada di wajah tidak nampak salah satunya, seperti hidung mungkin. Sudah pasti kita akan kaget dan panik mencari kemana perginya hidung itu.

Begitu pula saat kita bercermin menggunakan keimanan, hidung yang hilang tadi kita ibaratkan saja salah satu dari ridho atau ikhlas. Apakah kita akan sepanik seperti kehilangan hidung?

Pengertian Ridha dan Ikhlas

Sebelum kita menengok keberadaan ridha dan ikhlas dalam iman kita, mari kita mengingat kembali perbedaan antara ridha dan ikhlas yang sering orang salah mengartikannya, dan meminimalisir kesalahpahaman diantara kita eciyee.
Ridha adalah sikap hati dari segala sesuatu yang berkaitan dengan qadha dan qadar
Ikhlas adalah sikap hati dari segala sesuatu yang berkaitan dengan penyukutuan selain Allah.
Nah gimana sekarang sudah paham ya bagaimana perbedaan ridho dan ikhlas itu? Sekarang saatnya kita melihat kualitas ridha dan ikhlas kita yang akan berpengaruh pula pada kesempurnaan iman kita, dan ini adalah bentuk penyelewengan sikap hati

1. Ridho Tapi Mengeluh

Membuat hati kita selalu memilih sikap untuk sabar dalam segala kondisi adalah hal yang berat-berat susah hehe, kadang ada saja hal yang membuat jadi oleng, lalu tiba-tiba saja mulut ini bersungut-sungut menyalahkan takdir ‘kok jadinya malah begini sih? Waaaah’ hati-hati bahkan hal sekecil itu sudah menjadi potensi untuk merusak keridhoan kita lho gawat yaa. Jika sudah terlanjur maka segera hapus dengan istighfar sebanyak-banyaknya.

Contohnya saja saat sudah belajar semalaman suntuk tapi saat melihat nilainya tidak sesuai dengan yang kita harapkan,

“kok cuma segini? Padahal aku sudah begadang semalaman untuk menghafal"
Nah kalimat diatas adalah contoh seseorang yang tidak bisa menerima takdir yang sudah Allah tetapkan, atau

“alhamdulillah nilainya cukup, meski sebenernya nggak sebanding sama yang aku korbankan semalam”
Yang ini baru contoh kalimat ridho… tapi mengeluh hehehe

2. Ikhlas Tapi Kecewa

Sama dengan ridho ikhlas ini juga sering sekali menjadi ilmu yang susah diterapkan, bisa jadi saat kita sudah meniatkan ikhlas karena Allah dalam mengawali amal kita setan datang dari arah manapun untuk menggoda kita agar niat lurus kita berbelok barang sedikit. Beberapa orang mungkin akan beranggapan dirinya telah berhasil untuk ikhlas, nyatanya ikhlas adalah amalan yang ketika kita masih merasakan ikhas didalamnya maka sesungguhnya itu bukan ikhlas, nah kan pusing? Coba saja lihat surat Al Ikhlas dalam isinya sama sekali tidak menyebutkan ikhlas.

Contoh teman kita sedang kehabisan bensin dan kita meminjamkan motor kita untuk membantunya ikhlas karena Allah, dipakailah itu motornya sampai kemudian motor itu dikembalikan dalam keadaan bensinya habis lalu kita 'astaghfirullah ini kok dihabisin sih, terus aku pulangnya gimana dong? Tau gitu tadi…' ikhlas kok bantuinnya beneran, iya tau kok kalau itu Ikhlas tapi... kecewa.

Hayo hayo siapa yang tetep bisa kasih senyuman ke temen tadi saat dia kembaliin motor kita dalam keadaan bensinnya kosong? Kalau masih selamat artinya hati kita sudah bisa terlatih untuk tidak kecewa saat sudah mengikhlaskan karena Allah.

Sudahkah Ridho dan Ikhlas Itu Hadir?

Mari sama-sama mengevaluasi diri, kira-kira jika kejadian yang menguji keridhoan dan keikhlasan kita datang sikap apakah yang akan hati kita pilih? Memilih untuk mengeluh dan kecewa atau sabar dan berserah diri kepada Allah? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Jika tidak sempurna ridha dan ikhlas kita maka cacatlah keimanan kita.
Semoga bisa menjadi pengingat untuk kita semua dalam menghadapi segala ujian yang datang, agar selalu termotivasi meningkatkan kualitas keimanan dengan memegang erat prinsip ridha dan ikhlas.


Baca Juga