Terbujur, Tertutup Koran

kecelakaan yang terjadi adalah kehendak Allah untuk mengambil nyawa seseorang, dan orang yang melihatnya pun dapat mengambil pelajaran darinya
 Tek..Tek… suara yang ditimbulkan tanganku sehabis memencet tombol pada headset berniat mengganti lagu, sudah hampir sebulan aku kembali lagi mendengarkan lagu-lagu jahiliyah menemani perjalananku. Aku tahu ini salah tapi rasanya hampa jika diperjalanan hanya mendengar deru mesin. Tanganku beraksi lagi karena tak kunjung mendengarkan lagu baru, tapi headset itu tetap hening, saking sibuknya dengan headset sampai tidak sadar didepan jalanan sudah mulai macet saja, eh tunggu-tunggu kenapa banyak polisi? Dan apa itu yang dikerumuni banyak warga? Sekilas aku melihat koran yang sengaja dibentangkan untuk menutupi sesuatu karena aku melihat bentuk korannya sedikit menggembung. Ah sudah pasti ini….
  
    Pandanganku mengekori koran-koran itu sampai kemudian motorku sudah melaju semakin menjauhi kerumunan, mau tidak mau kepalaku otomatis menghadap kedepan, dan beberapa detik setelahnya headsetku kembali memutar sebuah lagu. ‘Deg’ apa ini maksud dari Allah membuat headsetku tadi bermasalah? Aku tidak berselera mendengarkan lagu yang sudah hampir terputar setengah, pikiranku melayang-layang ke tempat kejadian kecelakaan tadi. Apa ini ayat Allah? Aku menekan tombol sekali lagi untuk mematikan lagu yang masih terdengar itu.

    Sepanjang perjalanan aku menangis, kembali ingat dengan kematian. Bagaimana jika yang terbujur tertutup koran adalah aku? Aku yang diambil saat sedang mendengarkan lagu jahiliyah? Aku menutup mataku sangat keras berusaha menghilangkan bulir air mata yang hampir memburamkan pandangan, tapi nihil air mata terus menerus keluar.
 
    Cukuplah kematian itu menjadi sebaik-baik nasehat untuk kita, bayangan api neraka yang menari-nari kembali datang menghampiri. Sungguh aku merasa belum siap jika harus mati sekarang, aku memohon ampunan sepanjang perjalanan. Berhenti di lampu merah, melihat seven segmen yang menampilkan angka 29 seirama dengan bibirku yang juga tak henti-hentinya beristighfar. Ah ternyata ini sungguh lebih nikmat daripada 29 detik yang aku lalui dengan mendengarkan musik.
 
    Kutarik nafas panjang, menahannya, lalu kuhempaskan kasar berusaha mencari ketenangan. Tidak, ini berbahaya jangan sekali-kalinya menangis dijalan kecuali kalian adalah aku. Maskerku mulai basah, namun belum ada tanda-tanda air mataku akan berhenti. Bahkan saat sampai rumah sungai dipipiku tetap deras, sama sekali tidak ingat jika aku tadi kelaparan.
 
    Pelajaran kali ini adalah, ayat Allah itu ada dimanapun, kita mungkin selalu dibuat Allah sadar bahwa apa yang kita lakukan salah, namun kemaksiatan yang berulang kali dilakukan membuat kebas dan mematikan kepekaan hati terhadap hidayah. Bersyukur bahwa kita diingatkan melalui kejadian orang lain. Bagaimana jika dibalik, kita yang menjadi pengingat bagi orang lain?

#OneDayOnePost
#ODOP
#ODOPChallenge5
Baca Juga