Pengaruh Covid-19 Terhadap Kegiatan Belajar Mengajar

pengaruh covid 19 bagi emak-emak dan serta pengaruh covid pada dunia pendidikan
covid petaka pendidikan


Covid-19 yang tidak terasa sudah membersamai kita hampir 8 bulan lamanya, virus ini pertama kali diberitakan muncul di provinsi Wuhan, Cina. Meski dikabarkan jika penyebarannya ini datang dari kelelawar, namun sampai saat ini belum bisa dipastikan dari mana sebenarnya asal virus tersebut.

Virus ini begitu cepat penyebarannya, lebih cepat dari jaringan internet di Indonesia. Saking cepatnya banyak instansi yang meliburkan karyawannya, atau mempekerjakan mereka di rumah yang biasa kita sebut dengan Work From Home atau WFH. Sekolah apalagi, sudah paling awal memutuskan untuk melakukan kegiatan belajar mengajar online, mengingat bagaimana banyaknya siswa dalam setiap kelas yang bisa menjadi ajang penyebaran virus.

Masyarakat dituntut untuk bisa menyesuaikan diri selama pandemi ini, mulai dari membiasakan hidup bersih, hidup sehat, selalu menggunakan masker, cuci tangan setelah melakukan kegiatan, dan menjauhi kerumunan. Semua itu diupayakan untuk menghindari peningkatan pasien positif Covid-19 ini. Namun yah, tipikal warga negara berflower yang suka dengan tantangan, protokol kesehatan itu masih banyak yang melanggar.

Pengaruh Covid-19 Dalam Aktivitas Masyarakat

Dalam masa pandemi ini tentu semua orang merasa stres dengan kebiasaan baru yang secara tiba-tiba. Contoh mungkin menggunakan masker, ada mungkin orang yang sama sekali tidak pernah menggunakan masker selama hidupnya, karena kesulitan bernafas atau semacamnya. Datangnya Covid-19 ini mengharuskan kita semua memakainya tidak peduli kamu pengap atau sesak, bagi yang tidak menggunakannya akan dikenakan pidana atau denda.

Hanya contoh masker, belum merambah ke hal lain yang lebih membuat kepala nyut-nyutan. Dari perekonomian yang tidak stabil, sampai kegiatan yang serba online. Beberapa kali aku berkesempatan mendengarkan keluh kesah seorang ibu yang pusing dengan kebijakan sekolah daring. Bagi mereka yang selama ini merasa woles dengan kegaptekannya seolah mendapatkan hantaman, harus bisa bersahabat dengan smartphone dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Tidak sedikit pula siswa yang tertinggal pelajaran karena kurangnya fasilitas yang dimiliki. Mulai dari masalah sinyal karena tinggal di wilayah pelosok, hingga siswa yang tidak memiliki smartphone. Mungkin kita bertanya-tanya “jaman sekarang masih belum punya smartphone?” nyatanya memang masih banyak orang yang asing dengan teknologi smartphone.

Keadaan Yang Sebenarnya Terjadi

Beberapa waktu lalu, aku didatangi tetanggaku yang meminta bantuan untuk membantu anaknya mengerjakan ulangan pelajaran Bahasa Arab dan Agama Islam. Pada awalnya aku kira sang anak yang meminta dibantu belajar karena kondisi orang tuanya yang angkat tangan dengan 2 pelajaran itu, tapi ternyata aku diberikan langsung soalnya dan diminta mengerjakan oleh ibu itu. Anaknya? Entahlah mungkin sedang bermain layangan.

Dari contoh di atas, aku langsung membayangkan bagaimana kondisi para pemuda Indonesia saat sudah dimulai kembali kegiatan belajar mengajar offline, apakah kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin menurun? Melihat kondisi real di lapangan yang memprihatinkan.

Guru Yang Berjuang Lebih Keras

Meski tidak merasakannya secara langsung, tapi aku paham bagaimana mimpi buruk tenaga pengajar yang selalu dihantui tuntutan untuk berkreasi membuat kelas yang interaktif. Aku yang memang mendapatkan amanah menjadi pembimbing pendidikan imtaq juga tertantang, bagaimana mengaktifkan forum yang semua punya hak mematikan microfonnya. Seperti berbicara dengan tembok saja saat forumnya berjalan.

Pusing memikirkan ide mengajar belum selesai, sudah ditambah dengan komplain wali murid yang merasa menjadi pihak yang paling terdzolimi. Nyatanya semuanya juga pusing menghadapi pandemi ini, bukankah seharusnya kita memikirkan solusi bersama untuk menyesuaikan diri dari problematika dunia ini? Sudah hampir 8 bulan berlalu lho.

Adab Menuntut Ilmu Yang Semakin Kacau

Fren, jaman dahulu kegiatan belajar mengajar diadakan didalam masjid dan duduk bersila dilantai. Semakin berjalannya waktu mulailah ada kursi, dan ruangan khusus untuk belajar atau kelas yang mengurangi keberkahan kita dalam menerima ilmu. Lalu bagaimana dengan sekarang yang serba online?

Kegiatan belajar daring ini malah semakin menghilangkan nilai-nilai adab itu sendiri, kewajiban untuk membersihkan diri alias mandi dan mengenakan pakaian terbaik tak lagi menjadi prioritas, bahkan ada yang terang-terangan mengatakan bahwa dirinya baru saja terbangun lalu langsung menyimak kelasnya. Atau ada yang menyimak sambil rebahan, mau masuk gimana ilmunya kalau intimak dengan forumnya saja nol.

Oke, kamu cerdas dan bisa menerima ilmu meski sambil main Among Us. Tapi disini kita sedang membicarakan nilai berkahnya. Mudah saja ilmu itu kau pahami, tapi apakah ilmu itu nantinya bisa menjadi penyambung kedekatan dengan Rabbmu? Masih berani menyepelekan adab?

Nilai Moral Yang Terjun Bebas

Bukan hanya adab, dengan semua yang serba online ini menjadikan manusia semakin tidak takut melakukan kecurangan. Contoh adalah tetanggaku yang tadi meminta aku untuk mengerjakan ulangan anaknya. Bukannya malu tapi malah memanfaatkan kelas daring ini untuk meningkatkan nilai anaknya. Dengan bangganya beliau menceritakan telah mengerjakan mata pelajaran lain dan mendapatkan nilai 100. anaknya? Ah lagi-lagi aku tidak tahu dia dimana, mungkin sedang menjahit matanya diatas kasur empuk.

Kondisi yang memprihatinkan ini tidak bisa hanya kita diamkan saja fren, mau jadi apa negeri tercinta ini jika pemudanya asik bermain layangan atau joget-joget di Tiktok. PR besar kita adalah bagaimana menjadikan para pelajar tetap memiliki kapasitas yang seharusnya dikuasai. Dan menanamkan nilai-nilai adab serta moral yang sudah hanyut di bawa air hujan di bulan November ini.

Pesanku
Jika kamu seorang guru, maka bersabarlah dan terus berjuang. Ide kreatifitas yang muncul darimu akan membuat perubahan dalam dunia pendidikan.
Jika kamu orangtua, maka bersabarlah dan tetap mengupayakan yang terbaik. Menjaga atau membangun nilai moral serta adab dilingkungan rumah.
Jika kamu adalah aku maka, lakukan hal yang bisa dilakukan sebagai bentuk kontribusi perbaikan ummat dan jangan kebanyakan nyinyir hehe. S
ekian.

#OneDayOnePost 
#ODOP
#ODOPBatch8 
#TantanganPekan9
Baca Juga