Selalu Menunda Taubat? Perhatikan Apa Yang Kamu Makan

makananmu adalah alasan mengapa selalu menunda taubat, sulit istiqomah, dan malas beribadah

makanan thayyib

Memulai seuatu perubahan itu mudah fren, yang susah adalah istiqomah dalam menjalaninya. Contohnya saja, aku akhir-akhir ini yang bertekat untuk hidup sehat dan rutin berolahraga. Hari pertama terkesan mudah-mudah saja, bahkan intensitanya langsung mengambil yang versi berat biar cepat efeknya. Namun setelah mempraktekkannya selama 2 hari rasanya untuk melanjutkannya menjadi sangat sulit.

Gimana mau lanjut badannya udah remuk pegel-pegel semua, halah alasan saja ini mah. Jika kita tidak mampu menahan diri untuk tetap melanjutkan berjuang meski rasanya sangat berat, hasilnya akan selalu gagal sepertiku sekarang. Punya cita-cita kurus tapi tak pernah bisa menahan nafsu makan dan malas berolahraga.

Faktor Penghalang

Tapi ternyata fren, ada beberapa faktor yang sebenarnya berpengaruh penting terhadap progress kita yang selalu menunda amalan baik. Yaitu adalah apa yang kita konsumsi. Hah? Kok malah bawa-bawa makanan sih, eits tenang jangan buru-buru pergi. Seriusan ini tentang makanan, nah penasaran? Simak sini yuk

Daging Yang Tumbuh Dari Makanan Haram

“Wahai Kaab bin Ujroh, shalat adalah taqarrub, puasa adalah benteng, sedekah menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api. Hai Kaab, tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari makanan haram karena neraka lebih dekat dengannya.” (HR Muslim, Nasai, ad-Darami).
Menjaga kualitas makanan kita agar terhindar dari keharaman adalah prinsip mutlak seorang mukmin, memastikan makanan kita halal bukan hanya perkara “ini bukan babi” saja. Namun memastikan bahwa dia juga didapat dengan hasil yang halal menjadikan faktor penting dalam menilai kehalalan makanan tersebut.

Ingat bukan dengan cerita seorang pemuda dan sebuah apel, tanpa sadar pemuda itu sudah memakan apel yang hanyut oleh aliran sungai, saat sadar bahwa apel ini belum halal barulah sang pemuda itu mencari dan menelusur kira-kira siapakah pemilik buah apel ini. Dan saat sudah bertemu dengan sang pemilik pemuda itu memohon izin untuk diikhlaskan agar apel yang ada di dalam perutnya menjadi makanan yang halal.

Sayangnya tidak semulus itu, sang pemuda hanya akan dimaafkan ketika dia menikahi putrinya yang tuli dan buta. Dengan hati yang terbebas dari noda kemaksiatan sang pemuda itu menerima tawaran pemilik apel dengan ridho dan ikhlas.

Namun, ternyata apa yang didapatkan pemuda itu adalah seorang gadis cantik yang tidak ada sedikitpun kecacatan dalam dirinya. Sang pemuda kebingungan, apa benar ini anak pemilik apel itu? Dan sang pemilik apel itu berkata bahwa putrinya tuli dan buta dari mendengarkan atau melihat perkara buruk.

Bayangin fren, kalau kita yang ada diposisi itu apakah kita akan mau menerima tawaran dari sang pemilik apel? Tentunya sebelum tahu faktanya ya. Pasti kita bersungut-sungut “Ya Allah pak, ini cuma apel” eh salah bukan kita tapi aku yang bersungut-sungut.

Nyatanya untuk memastikan makanan itu halal tidaknya bukan perkara remeh. Dia akan menjadi daging dalam diri kita, sari-sari makanan itu juga akan mengalir dalam darah kita. Sehingga jika kita tidak selektif dalam memilih makanan bisa jadi tubuh kita akan dipenuhi dengan tumpukan dosa, tidak mengherankan jika kita selalu menunda kebaikan dan sulit istiqomah dalam kebaikan.

Sikap Para Sahabat Dengan Makanan

Pernahkah kalian mendengar kisah tentang Abu Bakar yang memakan makanan pemberian pembantunya lalu saat mendengar asal usul dari makanan itu, beliau langsung menyogok kerongkongannya untuk mengeluarkan semua isi dari makanan yang tadi ia makan. Hal tersebut beliau lakukan karena mendengar penuturan pembantunya bahwa makanan ini ia dapat dari seseorang yang pernah menggunakan jasanya saat dulu masih menjadi dukun. Jadi pembantunya ini pernah menjadi dukun dan makanan ini didapat dari cilentnya dulu.

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar ini adalah bentuk wara’nya terhadap apa yang ia makan. Beliau sangat hati-hati sekali, bagaimana fren? Apakah kita bisa menelusur dari mana makanan yang kita makan ini dan bisa kita pastikan makanan ini halal? Hal semacam ini ternyata sangat penting tapi kita selalu abai untuk mempraktekkannya.

Makanan Salah Niat

Aku bercerita sedikit saja ya fren, jadi saat dulu sebelum pandemi sepulang bekerja aku sering mampir untuk mengikuti kajian tafsir di salah satu masjid. Meski masjidnya lumayan jauh tapi rasanya bukan masalah karena aku memang merasa butuh. Disana disediakan makanan setelah selesai kajiannya, dan makanannya pun selalu enak. Seperti steak ayam, ayam goreng dan lain-lain.

Suatu ketika aku merasa sangat ingin makan ayam goreng tapi aku harus hemat karena memang sudah memasuki akhir bulan. Seketika aku teringat “ohiya kajian nanti pasti dapat makanan enak” dan benar saja aku datang bersama niat mengharap ayam, bukan untuk menuntut ilmu. Aku memang menyimak kajiannya, tapi bayang-bayang ayam terus mengganggu. Dasar setan, baru kajian juga dikasih bayang-bayang ayam.

Setelah selesai kajian, dibagikanlah makanan itu, benar saja isinya ayam goreng kesukaanku. Sambil menunggu waktu maghrib biasanya ada acara makan bersama terlebih dahulu. Ya aku juga langsung menyantap ayam goreng itu dengan penuh haru. Mengucapkan syukur sambil berkata “rezeki anak sholihah” percaya diri banget ya? Hahaha.

Dan tanpa menunggu lama-lama efeknya langsung terasa, pulangnya aku langsung merasa sangat lelah dan menjatuhkan diri atau ambruk di kasur tidak ada niat untuk beranjak dan menuju kamar mandi. Mataku rasanya sangat berat, sayup-sayup mendengarkan adzan Isya’ tapi malah seperti lagu nina bobo. Iya, aku telah teler.

Bangunnya? Jam 4 kurang sekitar 10 menit menjelang adzan Subuh. Aku langsung panik dan ngibit ke kamar mandi, dan langsung shalat Isya’. saat menjelang adzan Subuh aku tertampar, dan menelusur kenapa sampai aku tertidur seperti orang mati. Meski memang saat itu pekerjaan sedang berat-beratnya, tapi hal yang menjadikan aku yakin adalah makanan yang aku makan.

Loh ceritanya jadi banyak hehe, intinya makanan dari niat yang salah membuatnya tidak bernilai pahala kebaikan melainkan kemaksiatan kita atau dosa, dan itulah yang mungkin membuat aku sampai kehilangan kesempatan untuk shalat Isya’. meski sebenarnya ini hal yang sangat salah, karena batas waktu Isya’ adalah tengah malam. Tentu ini juga menjadi penghambat kita dalam melakukan amalan kebaikan, buktinya aku langsung merem denger adzan, hiks.

Lalu Bagaimana Mengatasi Makanan Syubhat Yang Sudah Dikonsumsi?

Lalu bagaimana jika kita selama ini selalu tidak sadar dengan apa yang dimakan, dan membuat kita menjadi malas untuk ibadah, atau simplenya sih menghilangkan hobi rebahan

1. Taubat

Yang pertama adalah taubat, dan mulai selektif memilih makanan yang akan masuk kedalam mulut kita. Bila memiliki kebiasaan memakan makanan yang ada di rumah seperti permen atau biskuit, biasakan jangan langsung memakannya sampai mendapat izin dari yang punya.

2. Puasa

Puasa dapat membersihkan usus, pembuluh darah, serta daging-daging dalam tubuh kita yang mungkin tadi tertumpuk dosa. Makanya ada puasa Ramadhan kan fren salam satu tahun. Bukankah Allah begitu baik dalam memahami hambanya yang sering lalai sepertiku ini.

Kesimpulannya adalah, makanan menjadi hal yang sangat penting dalam langkah kita untuk melakukan kebaikan. Dia akan membantu kita menentukan arah yang lebih baik atau malah mundur teratur. Sekarang sudah paham bukan kenapa kita kok rasanya malas memulai amalan baik, menunda taubat, dan tidak bisa istiqomah? Semua karena isi dalam perut kita.


Pic Food photo created by stockking - www.freepik.com
Baca Juga