Dakwah Kepada Orangtua Yang Tahu Aib Kita

berdakwah kepada orangtua itu gampang gampang susah, karena mereka tahu aib kita
masuk surga sekeluarga

Terlahir dari keluarga biasa saja, membuatku tumbuh menjadi gadis yang biasa saja pula. Biasa dalam prestasi, biasa dalam harta, semuanya tidak ada yang menarik perhatian termasuk cara biasa kita melakukan ibadah. Terlampau biasa karena hanya menjalankan shalat wajib. Tidak peduli bagaimana nanti shalat kita diterima yang penting sudah shalat saja.

Merasa cukup dengan ibadah yang dilakukan itu, yang penting tidak berbuat jahat terhadap tetangga saja, anehnya kita tidak pernah merasa PD untuk bisa masuk surga padahal kita sudah merasa cukup dengan ibadah rutin yang kita lakukan.

Bersyukur Allah menciptakan rasa insecure, sehingga kita tidak mudah merasa puas dengan apa yang sudah diperbuat, akan muncul keinginan untuk berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi, lagi dan lagi. Dari sinilah aku mulai bisa membaca ayat atau petunjuk Allah yang mungkin selama ini sudah ada namun, hatiku terlalu gelap tidak bisa dimasuki sedikit cahaya dari ilmu.

Dengan bermodalkan rasa penasaran yang besar terhadap ilmu syar’I, akhirnya aku lebih dulu belajar dan mendapatkan hidayah dari Allah, mendahului kedua orangtuaku. Perubahan mulai dirasakan dari cara berpakaian, berperilaku, dan tutur katanya terhadap orangtua.

Dari situlah, aku juga ingin mengajak kedua orangtuaku merasakan nikmatnya hidayah, nikmatnya memiliki lingkugan yang baik, nikmatnya berserah diri kepada Allah serta nikmat lainnya. Namanya orangtua mereka adalah yang setiap hari pasti bertemu dengan kita, melihat aktivitas kita dan mengenal kita luar dan dalam.

Lalu aku menemukan problem-problem yang mungkin terjadi saat sedang mencoba membuka sesi diskusi kepada orangtuaku,

1. Tidak Memposisikan Diri Sebagai Orang Yang Menggurui
Bagaimanapun mereka adalah orangtua kita, dan menggurui mereka menurutku bukan hal yang tepat, bisa saja itu akan melukai ego mereka dan akhirnya apa yang akan kita sampaikan tidak bisa diterima dengan baik.

Ada beberapa kendala saat aku mencoba melakukan pendekatan. Mengajak diskusi, beberapa ditanggapi dengan antusias, terkadang dibantah dengan alasan jika dulu belajarnya tidak seperti itu, ditambah bumbu-bumbu dari kedua orangtuaku yang suka menggoda berharap aku terpancing dan marah.

Aku sempat bingung mau jadi anak yang berbakti atau anak sholihah, berbakti membahagiakan kedua orangtua dan bahagia mereka adalah aku yang tersulut emosi, atau tetap bertutur kata sopan dan merendahkan suara.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi sangat memudahkan kita mengakses apapun yang kita mau, tinggal ketikkan saja apa yang menjadi kegelisahanmu atau cukup katakan “Oke Google ….” dan ratusan jawaban atas kegundahanmu berceceran di layar gedget.

Aku termasuk orang yang mendapatkan hidayah melalui Instagram. Saat itu aku sedang patah hati, mencari quotes menarik untuk mengupdate status adalah satu hal yang aku lakukan untuk menarik perhatian dia. Berharap kegundahan hatiku tersampaikan meski tidak saling berkomunikasi secara langsung.

Kebiasaan itu yang kemudian mengarahkanku untuk tertarik dengan quotes islami masih tema yang sama yaitu, patah hati. Aku menyukai kata-katanya yang sarat akan makna, dan mulai termotivasi untuk berproses dari hari ke hari akhirnya setelah aku mulai mengamalkannya patah hati ini mulai terobati oleh waktu.

Aku tidak lagi merasakan apa yang namanya kesepian, meski memang banyak hal yang aku lakukan untuk melampiaskan perasaan sepi itu semua, misal dengan ikut kajian sana sini, mencari banyak teman, dan berusaha aktif membaca buku. Setelah aku sudah berdamai dengan hati mulailah aku disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat seperti ikut dalam kerelawanan dan banyak hal lain

Dari segudang aktivitasku aku merasa sedikitnya sudah punya gambaran tentang harus apa diriku dan apa yang tidak boleh dilakukan, setelah semua itu aku rasakan akhirnya aku mencoba untuk memberitahukannya kepada orang tua, mereka yang sudah melahirkanku aku ingin sama-sama masuk surga, mulai dari menjalankan shalat.

Karena aku shalat dirumah, jadi kadang orang tuaku punya alasan untuk shalat dirumah juga terutama bapak, padahal jika dirumah itu pasti nggak tepat waktu. Karena dalam proses saling mengingatkan untuk shalat ini akhirnya kita jadi kadang tidak akur, pasti kalau adzan jadi bertengkar aku yang baru seuprit mendapatkan ilmu merasa sombong dan paling benar, sedangkan ego bapak sebagai orang tua juga tidak bisa dibantah.

Sampai kemudian aku belajar dan belajar lagi ternyata memang caraku salah, bukannya berkah keluargaku jadi semakin runyam dan dengan banyak belajar dan membaca lagi aku mulai memperbaiki caraku berkomunikasi dengan orang tua, ya jelas salah kalau kita sama sekali tidak ramah dengan mereka meski mereka itu belum paham dan belum mendapatkan ilmunya.

Sampai saat ini alhamdulillah bapak sudah shalat di masjid dan malah menjadi yang paling rajin diantara aku dan ibuk, dari maghrib sampai isya beliau dimasjid untuk sekalian mengaji, maa syaa Allah aku sampai kadang malu kalau belum ngaji, karena sepulang dari masjid bapak melanjutka lagi kegiatan mengajinya, baarakallah pak.

Harapanku kedepannya untuk keluarga kecil ini, semoga semakin harmonis dan tetap taat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam memutuskan jalan hidup. Dan juga kita diberikan keistiqomahan.

Baca Juga