Pentingnya Literasi Digital Bagi Generasi Muda Indonesia

pentingnya literasi digital bagi generasi muda saat ini yang sangat memprihatinkan minat membacanya
literasi digital untuk pemuda indonesia
www.freepik.com Designed by Freepik


Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat membuat banyak orang termasuk pelajar dapat dengan mudah mengakses informasi apapun. Kemudahan itulah yang kemudian memiliki peran besar dalam mengubah pola pikir serta sikap pelajar saat ini. Kehadiran internet yang bagaikan senjata tajam bagi siapapun akan sangat mengkhawatirkan jika dipergunakan tanpa adanya pegangan ilmu literasi digital.

Apa Itu Literasi Digital?

Dikutip dari Wikipedia literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Harapannya remaja saat ini atau pelajar dapat mengontrol apa saja yang akan mereka sebarkan melalui akun media sosial yang dimiliki, sadar atas apa yang dikerjakan dan mau menerima konsekuensinya. Dengan adanya kesadaran itu dapat membuat mereka akan lebih berhati-hati dan bijak dalam mempergunakan akun-akun sosial media mereka.

3 Faktor Minat Baca di Indonesia yang Rendah

minat baca pemuda indonesia yang rendah


Mengangkat isu tentang literasi digital untuk remaja memang bukan hal yang mudah, masalahnya banyak generasi milenial sekarang rata-rata memiliki minat baca yang rendah. Hanya sedikit saja yang membaca buku hingga tamat disetiap tahunnya.

Saat ini banyak pelajar yang lebih memilih mencari informasi melalui Youtube. Bagi mereka mungkin ini hal yang lebih simple dan mudah untuk mendengarkan daripada harus membaca artikel yang panjang dan membosankan karena berisi banyak tulisan. Tidak salah memang, namun ini juga menjadi salah satu tanda bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami darurat membaca.

Dan ketiga faktor inilah yang menjadi penyebab generasi milenial saat ini tidak memiliki minat baca meskipun sudah tahu, manfaat apa saja yang akan didapat dari membaca itu sendiri.

1. Kesadaran Orangtua Tentang Pentingnya Membaca yang Rendah

Memiliki minat dan motivasi membaca yang kuat seharusnya sudah ditanamkan sejak dini oleh para orangtua, namun sangat disayangkan masih banyak orangtua yang belum menyadarinya. Sehingga sebagian besar orangtua lebih memilih membelikan anaknya mainan daripada buku bacaan. Memang miris, apalagi jika mainan yang dibelikan bukanlah mainan edukatif.

2. Mahalnya Harga Buku Anak

Selain kesadaran orangtua tentang membaca rendah, harga juga memiliki peran penting. Buku anak yang menarik sering kali dipatok dengan harga yang mahal, membuat beberapa orangtua tidak bisa membelikan untuk anak-anaknya dan memilih meminjam di taman bacaan atau perpustakaan. Namun di perpustakaan pun juga tidak selalu menyediakan buku cerita yang menarik, sehingga untuk menanamkan kecintaan membaca sejak dini cukup sulit bagi masyarakat menengah kebawah.

3. Generasi yang Maunya Serba Instan

Anak muda jaman sekarang atau Generasi Milenial yang kerap kali disebut dengan generasi instan ini nyatanya memang dapat dilihat dari minat baca yang juga maunya instan. Banyak pelajar saat ini yang tidak membaca informasi secara utuh, biasanya hanya akan membaca inti yang ia butuhkan saja. Padahal dengan kebiasaan seperti ini akan melewatkan banyak informasi dan tidak tersampaikannya dengan baik maksud dari penulis itu untuk pembacanya.

Dampak Negatif Jika Pemuda Indonesia Malas Membaca

Jika hal ini dibiarkan maka akan sangat berbahaya bagi masa depan bangsa kita, pemuda-pemuda kita akan menjadi generasi pemalas, memiliki pengetahuan umum yang tertinggal jauh dari pemuda di negara lain, kurangnya wawasan, kepekaannya terhadap masalah disekitarnya menjadi tumpul dan masih banyak hal lainnya yang tidak boleh kita biarkan begitu saja.

Mengapa Literasi Digital Perlu di Gaungkan?

Maraknya informasi yang berkembang membuat banyak orang tidak bisa memfilter informasi mana saja yang bisa dipercaya. Banyak yang dengan mudah termakan berita burung yang disebarkan dengan tujuan memfitnah suatu komunitas atau hal tidak bertanggungjawab lainnya. Maka dari itu sangat penting untuk kita mengangkat literas digital ini, agar masyarakat pun dapat memahami berita dengan bijak.

Siap Mengambil Peran dalam Dunia Literasi Digital

Semalam aku mendapatkan tamparan yang luar biasa dari materi yang disampaikan oleh coach Gemaulani tentang Teknik Menulis dan Editting Blogpost. Materi yang disampaikan membuatku menyadari banyak hal yang aku lewatkan padahal begitu penting untuk menjadi pegangan blogger, bagaimana menulis yang baik serta membuat nyaman pembaca kita dengan mengatur paragraf maksimal 5 baris.

Hal itu menjadi PR besar untukku yang masih pemula ini, untuk menjadi blogger profesional memang harus punya bekal skill menulis yang baik agar bisa menyajikan konten bermanfaat kepada banyak orang. Bukannya memang itu keinginan semua blogger? Menjadikan diri bermanfaat sebanyak mungkin. 

Karena minat baca masyarakat Indonesia yang rendah, menjadi tantangan tersendiri untuk blogger dalam menyajikan konten yang sesuai dengan generasi muda saat ini. Seperti yang dikatakan coach Gilang, menulislah sesuai kaidah yang akan membuat orang lain cepat paham apa yang kita maksudkan.

Sebagai seseorang yang mengaku blogger, tentu isu tentang literasi digital sangat hangat diperbincangkan apalagi jika menyangkut minat baca generasi muda saat ini. Kitalah yang bertanggungjawab membawa masa depan bangsa . Dari sana aku sadar dan mencoba untuk mengambil peran kecil yang bisa aku lakukan, seperti :

1. Banyak Menuliskan Konten Positif yang Menarik

Hilangnya minat baca anak muda atau pelajar saat ini menjadi tantangan bagi semua orang yang terjun dibidang literasi. Bagaimana membuat konten yang menarik dan bisa membuat pembaca bertahan dari awal hingga akhir tulisan kita. Artikel yang berisikan tulisan saja akan mudah ditinggalkan, sebaliknya jika kita sematkan info grafis yang sedikit mengambarkan maksud dari tulisan kita lebih nyaman dipandang.

2. Mulai Dari Diri Sendiri

Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa 1 teladan lebih baik daripada seribu nasehat, hal itu memang benar adanya Fren. Orang-orang akan lebih menerima nasehat berupa teladan yang baik daripada kita banyak berbicara tentang literasi digital namun kita sendiri tidak melakukannya. Maka, mulailah dari menentukan jadwal membaca dan rutin melaksanakannya menjadi keharusan.

3. Kampanyekan Minimal 30 menit Membaca Setiap Harinya

Setelah selesai dengan urusan diri sendiri maka saatnya menyebarluaskan kebiasaan membaca ini kepada masyarakat umum terlebih kepada generasi muda saat ini. Dengan memposting agenda membaca kita, atau mereview buku yang kita baca lalu mem-posting-nya di media sosial yang kita miliki. Harapannya orang yang melihat postingan kita akan tertarik. Dan lakukan terus karena kita tidak akan tahu, tindakan mana yang akan menyadarkan orang lain.

Kesimpulan

Ketiga peran inilah yang saat ini menjadi titik fokus dan juga bentuk kepedulianku terhadap literasi digital. Memang terkesan recehan namun hal receh ini jika dilakukan banyak orang saat kita mengkampanyekannya, semua itu akan bisa kita tukar dengan uang kertas di warung atau supermarket terdekat hehe. Intinya meskipun ini hal kecil aku memiliki harapan yang besar untuk pemuda Indonesia kedepannya.
Baca Juga