Review Novel That Summer Breeze Karya Orizuka

review novel that summber breeze karya orizuka yang bikin mata kita bengkak pas baca kisah si kembar dan Reina
novel yang bikin nangis


Akhir pekan ini aku memutuskan untuk merapikan rak bukuku yang hampir berdebu, saat aku mencoba menata kembali buku-buku yang aku miliki. Aku menemukan novel yang pertama kali aku beli, ditulis oleh mbak Orizuka, penulis favorit yang karya-karyanya sudah menemani masa remajaku. Salah satunya adalah That Summer Breeze yang akan aku bicarakan selama 3 menit kedepan.

Cerita si Kembar Ares dan Orion

Salah satu novel yang bisa membuat aku menghabiskannya dalam waktu 2 jam saja, untuk aku yang dulu tidak menyukai aktivitas membaca ini cukup berkesan. Pada awal halaman novel ini kita akan diajak berkenalan dengan kisah si kembar Ares dan Orion yang punya teman masa kecil bernama Reina.

Mereka bertiga sedang berada di taman yang terdapat pohon Akasia besar untuk memendam kapsul waktu a.k.a kapsul biskuit didalamnya terisi 3 kertas harapan yang mereka tulis sendiri-sendiri. Tidak ada yang boleh membacanya sampai 10 tahun kedepan.

Setelah itu mbak Orizuka langsung mengajak kita untuk melihat 10 tahun kemudian, dimana saat itu Ares menjadi anak yang sangat bertolak belakang dengan Orion. Ares yang suka berkelahi selalu mendapat kemarahan dari Ayahnya, sedangkan Orion adalah siswa yang selalu juara kelas selama hidupnya.

Tentu perbedaan yang bagaikan langit dan bumi ini membuat Ares menjadi sangat buruk di mata siapapun, kecuali Reina. Dan tiba-tiba saja gadis itu kembali dari Amerika setelah 10 tahun meninggalkan si kembar tanpa kabar.

Menteladani Sifat Ares pada That Summer Breeze

Selama membaca novel ini, aku selalu dibuat terharu oleh kisah Ares yang berjuang untuk mendapatkan perhatian dari orangtuanya. Dan cerita tentang keluarga inilah yang membuat mataku membuat genangan air. Karena sangat tidak adil jika membandingkan Ares yang memang mempunyai keterbatasan dengan Orion yang tanpa cela.

Tentu ada hal yang membuat Ares mempunyai banyak keunikan sampai ia dijadikan tokoh utama. Dan saat kemarin aku membacanya ulang, aku mendapat banyak sekali ibrah dari apa yang sudah Ares lakukan disini, seperti :

1. Menyembunyikan Kekurangan

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Termasuk perbendaharaan kebaikan adalah merahasiakan musibah, penyakit dan sedekah". (HR Abu Nuaim)

Saat itu Ares tetap menutupi musibah yang sedang menimpanya, dan membuat orang lain berpikiran buruk terhadapnya. Karena sesungguhnya apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, Ares tidak peduli.

Belajar dari Ares, tidak usah repot menjelaskan apa yang menjadi musibah kita kepada orang lain, cukup jelaskan saja sedikit yang kemudian tidak akan menimbulkan prasangka. Setelah itu tidak usah dihiraukan lagi, karena sesungguhnya penilaian Allah lebih penting untuk kita daripada penilaian mahkluknya.

2. Tetap Berusaha Meski Hanya Mendapat Cacian

Ares selalu melakukan yang terbaik, meski keluarganya akan selalu menganggap dia bodoh dan tidak mau berusaha. Kenyataannya Ares tetap belajar hingga muntah-muntah.

3. Tidak Memandang Orang dengan Sebelah Mata

Dari membaca novel ini, aku mencoba mengerti kondisi Ares yang selalu dianggap trouble maker, karena sesungguhnya dia adalah orang biasa seperti kita yang juga membutuhkan kasih sayang, kepedulian dan juga tempat berbagi.

Banyak mungkin orang seperti Ares disekitar kita yang hanya kita lihat luarnya saja, lalu kita skeptis dengan penampilan mereka yang mungkin berantakan dan suka berkelahi. Padahal sesungguhnya mereka pasti punya alasan melakukan itu semua.

Dan memang bukan tempat kita untuk menilai, bisa jadi kondisi mereka saat ini akan jauh lebih baik untuk beberapa tahun kemudian saat Allah menghendaki hati mereka mendapatkan hidayah. Karena tidak akan ada yang tahu bagaimana hati manusia bukan?

Identitas Buku

Judul That Summber Breeze
Penulis Orizuka
Penerbit Puspa Populer 2014
Cetakan ke-3
Halaman 235
Baca Juga